Langsung ke konten utama

Surat terbuka untuk BNI (ikut gelombang yang kini-kini)



Dari tahun 1999 masih ingat tuh, Mama hadiahin buku tabungan untuk pertama kalinya waktu saya duduk di sekolah menengah pertama. Ini buku tabungan pertama yang ada duitnya. Maksud saya, yang benar-benar kepunyaan saya untuk jadi celengan sungguhan. Dengan bangganya ada nominal Rp. 200.000 tertulis di buku tabungan BNI saya. Alhamdulillah. Belajar menabung juga akhirnya. Karena Mama Papa saya sudah sejak lama memang punya tabungan BNI jadi, ya, kami bertiga (saya dan dua saudara saya) juga ‘wajib’ punya tabungan di bank yang sama.

Selain tabungan pribadi yang tiap bulan saya titipkan ke Mama untuk ditabung, Mama dan Papa memang sudah merencanakan untuk membuka tabungan berupa deposito sebagai tabungan lebih untuk kami bertiga. Well, pertama kali saya ke bank BNI Malang saat itu. Disambut dengan adegan drama seorang nasabah yang karena terburu-buru, menabrak pintu utama bank yang saat itu masih saya ingat, putih polos. Saking bersihnya. Sambil menahan malu dan dibantu pak satpam yang juga mau gak mau ikutan tersenyum juga. Nha, dari sini nih, masih ingat betul bagaimana pola pikir saya mengenai petugas keamanan yang biasanya pasang muka ‘galak’ nan seram, gugur sudah. Bapak satpamnya sangat santun. Siap membantu siapa saja. Ini tanpa pilih-pilih. Nasabah, kah? Petugas kurir, kah? Tua, muda, anak kecil, orang dewasa. Semua sama. The nicest service ever seen. Kagum. Iya. Masih ingat juga. Karena saya juga dulu masih belum berani untuk berinteraksi dengan orang-orang baru. Bapak satpamlah yang dahulu bertanya apa-apa yang kami butuhkan. Super. Untuk anak pemalu seusia saya dulu, ini termasuk pembelaran untuk gak perlu malu menghadapi orang dewasa. Setelah dipersilahkan duduk dan menunggu. Tiap nasabah kerap diperhatikan nomor antriannya. Jangan sampai terlewatkan. Setelah menuju ke teller untuk menyetorkan uang, tetap saja dibuat kagum dengan perempuan muda yang dengan senyum sebelum kami menuju mejanya. Hmm... saya belajar satu hal disini, dari dulu. Bahwa senyuman mampu membuat seseorang merasa nyaman sekalipun bukan berada di lingkungannya. Ini masalah mental. Tentang menghadapi banyak orang yang beragam. Tentang kesabaran dan kesantunan. Saling belajar untuk berinteraksi secara sopan. Belajar mengantri tanpa harus menyela yang lain. Hal ini penting seiring saya besar. Bahwa pelayanan bukan hanya masalah sistem. Tetapi pengarahan dan perhatian terhadap nasabah agar teratur dan mudah dalam kepentingannya. Saat saya SMA dan mempunyai identitas sendiri. Mulailah saya harus mempunyai buku tabungan atas nama saya sendiri. Bayangan nama Nora Veronica Kastella sudah diangan-angan. Buat saya waktu itu, luar biasa. Hehe...Alhamdulilah. Kesan yang sama yang saya dapatkan ketika pertama kali ke bank BNI dulu tetap sama. Hanya, sekarang dengan orang-orang yang baru dan tempat yang jauh lebih nyaman. Oh ya, informasi penting untuk seseorang yang wira-wiri ke toilet seperti saya. Selain keramahan petugas bank, toiletnya selalu bersih dan wangi. Ini tentu jadi penilaian saya pribadi yang patut dijempoli. Karena biasanya fasilitas umum terkesan sangat kotor dan bau. Tapi di bank BNI, big no no. Bahkan seperti rumah sendiri. 

Setelah masuk tahun 2004, saya mulai ‘serius’ dalam pelayanan bank BNI. Ini saya lakukan dengan mulai mengurus kemudahan yang ada. Seperti menggunakan mobile banking dan e-banking. Ini saya lakukan agar lebih mengetahui apa-apa yang ada pada tabungan saya. Ya, walaupun saat itu masih menabung dari duit orang tua. Ini yang seru. Walau awalnya sempat ragu bisa menggunakan layanan tersebut. Tapi lama-lama kelamaan sangat mudah dan terbiasa. User friendly. saya punya tabungan dengan bank lain yang saya gunakan dengan layanan yang sama dengan bank BNI. Sebagai suatu contoh. Saat menggunakan transaksi transfer, tidak perlu repot untuk petunjuk yang lama dan susah. Dan kemudahan BNI semakin terasa sampai sekarang.

Setelah menikah, saya anjurkan suami untuk menabung tabungan haji di Bank BNI. Awalnya memang hanya bertanya, namun semakin yakin dengan bank BNI untuk kepengurusan tabungan haji. Apalagi sekarang setelah mempunyai anak. Rencana untuk membuatkan tabungan pendidikan dan tabungan hajinya semakin besar. Saya sampai mengenal beberapa karyawan BNI saking seringnya saya melakukan transaksi di bank tersebut. Awalnya karena mengurus segala keperluan pernikahan. Hahaha... dan kebetulan si mbak tellernya juga sedang melakukan persiapan pernikahan. Lalu salah satu costumer service yang sedang mengandung (pada saat itu saya juga sedang hamil). Jadilah obrolan tidak hanya tentang per-bank-kan. 

Tiap kali saya melakukan transaksi atau penggunaan layanan, selalu teratasi dalam waktu yang singkat. Orang-orang yang santun memang salah satu kunci pelayanan terbaik yang dimiliki oleh perusahaan. Perasaan nyaman inilah yang dirasakan oleh calon nasabah ataupun nasabah dalam mengatasi masalahnya. Walau menggunakan lebih dari satu bank, tapi transaksi utama dan yang sering saya lakukan adalah BNI. Ini jujur. Memang betul-betul merasakan bentuk kemudahannya. Apalagi setelah berumah tangga dan menghabiskan banyak waktu sebagai ibu rumah tangga serta profesi pekerjaan yang memang saya lakukan di rumah pula, memenuhi kebutuhan saya pun bisa saya lakukan tanpa harus keluar rumah. Seperti membayar listrik, kartu paska bayar, transfer ke bank lain, membeli tiket atau lainnya. It’s easy by a click.

Dan semoga,kemudahan ini akan lebih baik seiring persaingan dengan bank lain. Pelayanan yang kami rasakan sekeluarga benar-benar merasa diuntungkan karena kemudahan yang diberikan. Tanpa perlu datang ke bank, tanpa menelepon customer service bisa dilakukan dengan sangat baik. Dan semoga pelayanan ini terus dipertahankan dan dikembangkan. Baik pada layanan pada bank pusat atau cabang, atau pelayanan sistem.

Terima kasih BNI sudah memberi kemudahan kepada saya selama 16 tahun. Tetap jaya, tetap terjaga, tetap amanah.

Pos populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…