Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari September, 2014

Lingkar

24 september 2014,
Assalamualaikum,
Pagi menjelang siang. Teriknya malu-malu namun hangatnya memeluk erat-erat seperti pelukmu. Dalam ajaran berihrom, aku berjalan, memandang tinggi bangunan, seperti sahabat lamaku. "Kita bertemu lagi, kawan," batinku.
Menyusuri langkah satu demi satu dengan satu harapan. Tapak2 kaki ini terasa ringan walau sebenarnya sudah tidak mampu. Sampailah pada 'kawan lamaku' yg lain. Ka'bah Ahad itu masih cantik. Rasa rinduku pecah. Kulihat sendiri bagaimana ia pun akan merayakan haji bersama kami (insya Alloh). Ka'bah ini pun berihrom. Bangunan ini...... Bagaimana mungkin aku tak mencintainya, selalu saja terbayang-bayang mengelilingnya. Juga tersenyum setiap melihatnya. Setidaknya, aku melihat bangunan yg sama seperti Muhammad melihatnya.
Dan ArsyMu, yg tiap kali membayangkan saja sudah ingin sekali ku berada dibawahnya Mengelilinginya dengan keringat peluh. Sungguh, keringat ini yg lebih aku bahagiai daripada keringat kerja kerasku dalam…

Bermula

23 september 2014,
Assalamualaikum, 

Biasanya naik pesawat jadi salah satu kenikmatan sendiri untuk bersyukur, berdoa, tertawa, bahkan menangis diam-diam. Bertemu ciptaan menggemaskan yg bernama awan.
Hari ini, langkah terasa ringan. Hati semakin lapang. Rasa rindu padamu diam-diam ditidurkan.
Biasanya (lagi), menerima salam perpisahan dari orang2 tersayang begitu menyayat. Saat ini, rasa tidak karuan dibuang jauh tiba-tiba. Mukaku menjauh ke depan. Teringat satu nasihat, imam kesayanganku. "Jangan menangis, sayang. Harusnya perjalanannya akan begitu bahagia".
Dalam perjalanan panjang, aku selalu merasa tidak percaya. Pergi lagi dengan banyak pengharapan, dosa, kerinduan.
Tatapan akan 9 dzulhijah membuat banyak insan menengadah menangis mengurai air mata. Tatkala perjumpaan dengan Alloh hampir nyata.

Wassalam, Renotxa.


Yang begini lagi

Assalamualaikum,
Pada suatu diskusi panjang. Mengenai....

Biologi.

Suatu pelajaran yang tidak saya sukai semenjak duduk di sekolah menengah pertama. Lalu entah takdir Alloh yang selalu baik yang mengantarkan saya pada seorang Guru Biologi yang merupakan Guru diniyah saya. Ketika suatu pengajaran menjadi suatu yang diluar 'sekedar tahu-menahu'. Bahwa nilai bukanlah tujuan khusus dari pembelajaran. Yang didalamnya terdapat banyak ekspektasi mengenai apa-apa yang tertuju pada Robb. 
Iya, saya malu juga. Saya malah jatuh cinta pada Biologi karena pemikiran Gurunda saya. "Mengetahui bahwa sel-sel pada jari diperintah Alloh untuk membelah diri dan bereaksi dengan sel yang lain agar mneyerupai jari-jari kita yang terpisah saat ini. Bersyukurlah pada Alloh karena tanpa adanya izinNya, kita tak bisa mengerjakan pekerjaan apapun dengan sempurna". Ya, saya malu. Mengapa syukur itu identik dengan rejeki finansial saja. Secara harfiah memang itu tak bisa melepaskan pandangan kita…