Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Agustus, 2014

Gimana bisa?!

Assalamualaikum,
Baru saja saya membaca status seorang teman di jejaring sosial, yang mengilhami mengapa saya menulis hal 'prinsipil' ini. Meninggalkan seorang anak yang baru saja dilahirkan demi kewajiban pekerjaan puluhan kilometer. Yang tak dianya, penantian untuk mendapatkan anak ini sudah lebih dari 5 tahun lamanya.
Bukan sedih karena keadaan, apalagi terhadap takdir yang hanya dia saja yang lebih tahu letak dimana seseorang akan berupaya. Saya sadar, bahagia dan sedih adalah ujian yang tak lebih dari sekedar syukur dan bersabar. Ikhlas yang mengutamakan banyak perasaan rela, yang saya sendiri tidak lebih memahami diri saya sendiri. 
Bukan Alloh jua namanya bila Dia tidak memberikan perihal-perihal yang sangat baik dari yang dibutuhkan. Ya Alloh, sabar itu susah. Bahkan penantian tiap detik saja sangat lama. Hanya karena masalah bagaimana hati ditempatkan di bagian yang mana. Di bagian seperti apa. 
Karena hidup 'tujuan akhirnya' mati juga kan?! Tidak bernyawa. …

Mimik Putih

Assalamualaikum,

Sumber : Disini

Alasan mengapa saya sukaaaaaa sekali air putih yang terkadang rasanya enak seperti memakan sesuatu yang berbumbu. Karena air putih berwarna putih adalah alasan utama dari para nenek moyang kita yang menamai air  minum sebagai air putih yang saya juga bingung, ini transparan, ini transparan (diulang-ulang sampai 5 kali). Air itu menggoda bila direunikan dengan air yang lain dalam satu wadah. Kolam renang misalnya. Laut misalnya. In ways it has supposed to be that way tapi, iya... saya suka. Mereka berkumpul dan berwarna pada akhirnya dalam gradasi biru. Uuulalaa....
Alasan selanjutnya adalah, ia cair. Karena padat sudah dipakai tanah, beku dipakai es batu, uap juga berasap. Toh... air tetap cair intinya (ditinggal pemirsa ke Brunei). Yaa, menyadari pentingnya air yang punya sifat membersihkan. And i owe these thing to keep my healthy living. Kebiasaan air putih ini dampaknya besar luar biasa untuk kesehatan. Dan tubuh punya alasan cukup kuat untuk bersa…

Minus

Assalamualaikum,

sumber : http://marscellthebest.blogspot.com/2012/08/dibalik-sebuah-kekurangan.html
Beruntunglah, beruntunglah, manusia yang punya kekurangan. Yang ia mampu menyadari kekurangan hingga mampu menghargai kekurangan orang lain tanpa berbelit mencari alasan ini itu. beruntunglah, orang-orang yang atas dasar itulah mau mengerti dan bersahabat dengan takdir hidupnya. Dan memperjuangkan secara maksimal dasar dirinya sebagai makhluk sosial, berenergi. Karena hidup ini sangat besar untuk dipecundangi, ditantangi. Tak mampu. Sungguh tak mampu. Tapi bukankah ego, nafsu, dan amarah musuh paling besar dari tiap-tiap kita?! 
Beruntunglah, beruntunglah, walaupun sudah mengenal orang-orang tersebut, dan masih belajar untuk 'santun' pada keadaan. Mencoba bersikap rendah hati karena dirasa-rasa, tiap-tiap kita punya dimensi limit yang berbeda. Yang tak punya tangan, yang tak mampu berpikir cepat, yang tak mampu melihat gradasi warna, yang tak mampu bernapas dengan sempurna, ya…

Mbak Cit...

Assalamualaikum,
Banyak yang meresahkan dari satu hal di jaman sekarang. Dan saya mengkhawatirkan satu orang. Namanya citra. Yang banyak orang tuh, sukanya pakai istilah pencitraan. Salah perempuan ini apa sih?! Yaa, kita tidak sadar sedkiti-sedikit bawa kata pencitraan. Gampangnya orang lain menyebut nama mbak-mbak yang saya juga gak kenal siapa dia. 
Ya, setujulah semua bahwa kita lebih ingin mengkritisi diri dan orang lain, namun salah tempat. Sekali lagi, balik lagi ke bagaimana niat ini bermula. Lalu seterusnya, manusia lain yang tak memahami niatanmu mengganti sesuatu yang diluar kendalimu. Dan koar-koar mengataimu dengan "ah, biasa pasti pencitraan". Begitu sampai orang-orang berikutnya. :)
Tenang. Jaga diri dengan tetap tenang. Tetap pada keyakinan Alloh akan menerima kebaikan kita dengan keridhoan yang lain. Sekalipun salah paham ataupun penyampaian kita salah, seseungguhnya akan ada koreksi. Jangan khawatir. :) Antara didzolimi dam mendzolimi, dua hal ini pastilah…

Syawal ini

Assalamualaikum,
Selamat Idul Fitri sebelumnya, selamat berbahagia bersama keluarga dan maaf ya. :)
Lebaran ini adalah lebaran pertama saya tanpa 'keluarga' inti. But well, i had much better and happier to celebrate this Eid Mubarok. Alhamdulillah bertambah banyak keluarga, banyak kesempatan nostalgia mengenang takbir keliling, sholat Id di lapangan, dan sungkem-sungkem kembali. Masya Alloh. 
Terkadang tiap Romadhon dan Idul Fitri banyak yang saya tidak tahu bagaimana cara mengenang dua  hal tersebut. Merasa gagal menjadi orang yang istiqomah dalam hal apapun, tapi tetap merindukan cita-cita menjadi wanita sholeha. Jauh memang.
Mudik dengan perjalanan 10 jam arah pulang, bergantian menyusuri jalan bersama mbak-mbak GPS yang suaranya kadang berat kadang genit. Kepala yang tiba-tiba pusing karena jarak mata memandang yang ada hanya kendaraan. Beruntung Suami saya orang yang sabar, mau mengerti kalau istrinya ini sudah lewat batas kemampuan. Karena tak biasanya menghadapi situas…