Langsung ke konten utama

Ma....

Assalamualaikum,

Kapan hari, saat mengantar Mamak pergi, dalam perjalanan yang dihabiskan gak lebih dari 30 menit itu (tebak hayo kami kemana?), Mamak banyak bercerita. Diawali dengan cerita keponakannya (it means that the person is my cousin) yang bersekolah untuk pertama kalinya di suatu Pondok Pesantren. Kami kagum bersama-sama tentang keputusan sang Ibu dan sang anak yang memang punya keinginan menempuh kehidupan yang mau gak mau jauh dari keluarga. Yaa, Mamak saya sedikit 'menyesal' dengan apa yang beliau lakukan tiba-tiba. Kami bertiga memang tidak ada satupun yang bersekolah di sekolah khusus keagamaan. Beliau mengakui bahwa ilmu beliau sangat minim bahkan sama sekali tidak ada. Kata beliau, memanggilkan Guru Mengaji adalah salah satu cara agar anak-anaknya tidak buta huruf, buta agama. Singkat beliau. Well, rasa 'kesal' dan kecewa yang saya dengar itu sebenarnya mendasari. "No, Ma. Hak kami sebagai anak sudah terpenuhi oleh Ma & Pa". Mamak cuma senyum. Menyalahkan Orang Tua dalam hal pengajaran adalah hal yang gak relevan menurut saya. They do they best, We'll do the rest. 

Ketika banyak perempuan ingin punya karir yang tinggi dan cemerlang, punya jabatan dan berlomba-lomba menjadi trendsetter, saya punya pekerjaan impian menjadi seorang ibu rumah tangga seperti Mamak saya, Istri Sholehah tepatnya (aamiin panjang). Iya... mengapa? She does her job daily in her lifetime. Mengapa?
Ia menjadi Guru.
Ia menjadi Executive Chef.
Ia menjadi Menteri Keuangan.
Ia menjadi Arsitek + pekerja kasar (nee, Mamak saya pandai panjat genteng benerin antena while Pa jadi navigator "belum, Ma. Kabur dikit, Ma. Uda jelas, Ma)
Ia menjadi Konsultan.
Ia pun jadi Dokter.

See, pekerjaan paling mulia adalah Ibu Rumah Tangga. Kalau banyak yang mengatakan sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya jadi Ibu Rumah Tangga. Shame on you, darling. Jadilah Ibu baru  dahulu komentar. Gak mudah ya. Sekalipun Ibu-ibu yang ditambah lagi dengan bekerja diluar. Mommy those of you are great. Maafin kami anak-anakmu. 
Dengan banyak anak, banyak keinginan, banyak maunya, duh. Siapa tempat pelarian kalau mau kerokan. Ya Ibu kan? Siapa yang tetiba minta dielus punggungnya kalau minta manja? Saya kan? #hyaaa.

Jadi, selagi Mamak-mamak kita masih ada. Yuk, bersyukur dengan berbakti dengan manuuuuut kata Mamak yang baik.



Wassalam,

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…