Langsung ke konten utama

Yang teremehkan olehku

--Pada "Cemilan Religi"--



Assalamualaikum,
Suatu sore mendung seabu-abu aspal. Didalam kamar yang tertata nyaman. Buku yang baru terbeli masih terbungkus rapi dengan plastik putih rekat. Judulnya ringan, namun sedikit terhenyak. Tulisan Amalan Nabi yang tercetak tebal, dan Kumpulan Lengkap serta Yang sering diremehkan adalah dua kalimat bercetak kecil mengapit. Penasaran aku dibuatnya saat itu di toko buku Abah Yaqub. Banyak deretan buku-buku Islami yang ingin aku beli. Namun, karena terburu, aku rasa buku itu paling "mudah" aku baca nantinya karena tidak terlalu tebal dan temanya juga agak beda dari buku lainnya. Bukannya apa-apa, kata diremehkan menjadi hal paling memukulku saat itu. Bayangkan, sebagai seorang Muslim, aku, Nando Pragiodawan, justru lebih banyak meremehkan kewajibanku sendiri. Walau Orangtua sudah mendidikku sedemikian keras, tetap saja dalam "lalai pengawasan" (kusebut saja begitu) aku masih asyik menata gaya hidupku sendiri. Pikirku, hidup hanya sekali, dan bertahan hidup adalah wajib. Akhirat jelas-jelas sering, malah akrab ditelingaku. Namun ada rasa tidak percaya bahwa aku akan hidup lagi nantinya. Maksudku, mati adalah hilang plas.

Kembali ke buku tadi. Ini pertama kalinya aku tertarik oleh buku bacaan, terlebih bacaan Islami. Berapa banyak buku perpustakaan ruang tengah tertata rapi, tapi tidak ada satupun yang termemori dalam otakku. Wajarlah, aku tak pernah menyentuh sesuatu dari mereka. Nha, aku anggap pembeliaan buku pertama ini adalah hidayah besar buatku. Yaa, aku rasa Allah mendengar doa anak bandel ini. Tidak ada satu peristiwa pun yg dapat menggugah hati, mungkin pasti ada, hanya saja hati ini terlalu payah, sudah mengkerut karena banyak termakan dosa. Tapi biar macho begini, sering mendengarkan music rock, tapi idola ku (atau harusnya gue biar tergambar sangar dibenakmu) Rasulullah. Ironinya memang aku tak pernah menjalankan sunnahnya. Cerita tentang beliau selalu mengagumkan saat masih kecil diceritakan oleh banyak guru dan khalayak luas. Makanya aku bilang, aku ini sebenarnya setan yg bertampang tampan. Hehehehe..... Biar orang punya cita-cita jadi presiden, tapi aku punya keinginan besar untuk bertemu Rasulullah walaupun tahajjud saja tidak pernah, apalagi Dhuha, Hajat, apalah itu. 

Aku buka buku perdana yg kubeli ini secara random. Jujur ya, aku sebenarnya malas untuk membca buku. Apalagi melihat buku ini penuh dengan tulisan arab, beeeeh, baca Al Quran saja terakhir mungkin sekitar 20 tahun yg lalu, saat usiaku masih kemerah-merahan (itu, maksudku saat masih di sekolah dasar). Sampai saat berada pada halaman 68 tentang Bab bacaan shalat. Mataku hanya tertarik pada kalimat menuntun Unta, karena dari kecil, setiap mendengar kalimat menuntun Unta Rasulullah, aku sudah membayangkan betapa menyenangkan berlari berlomba untuk menuntun unta beliau. Begini kutipannya.


Dari Uqbah bin Amir, katanya :
"Pernah aku menuntun unta Rasulullah SAW dalam safar, lantas beliau berujar, Wahai Uqbah, maukah engkau aku ajari yang lebih baik daripada dua surat yg dibaca? Lantas beliau mengajariku Qul a'uudzu birabbil falaq dan Qul a'uudzu birabbinnas. Kata Uqbah, maka tak ada kebahagiaan menandingi kebahagiaanku karena keduanya. Ketika beliau singgah untuk shalat subuh, lanjut Uqbah, beliau mengimami kaum muslimin dengan kedua surat itu. Selesai Rasulullah shalat, beliau menoleh kepadaku dan berujar; Wahai Uqbah, bagaimana pendapatmu?".
(HR Abu Dawud no.1462 dan 1463 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani).

Aku diam, aku mengumpulkan cerita tentang beliau sedari aku kecil. Mengumpulkan apa-apa yg pernah aku gambarkan tentangnya. Bagaimana karakternya dulu sangat kuat sehingga aku begitu ingin bertemu dengannya. Sekarang, pasca waktu yang hampir menimbunku ditengah rancunya keduniaan dan kesenangan ku sendiri, aku hampir, ah tidak. Aku harus sadar bahwa hal ini penting untukku. Kalaulah bukan hal yang besar sebagai jalan hidayahku, maka biarkan hadist ini sebagai mukadimah kearah kebaikanku. Seandainya boleh cengeng, aku bisa saja menangis sesenggukan. Biarlah kau cibir aku, gondrong-nangisan. Bah. Aku lebih suka menangisi keyakinanku, daripada galau karena merindu imaji kalbu. Pret.
Secara kilat aku membayangkan, bahwa saat kalimat Wahai Uqbah, bagaimana pendapatmu? itu benar-benar menjadi imajiku yang baru. Uqbah yang beruntung. Rasul bahkan mempunyai waktu khusus untuk menolehkan badannya dan bertanya padamu. Batinku. Andai itu aku. Andai itu aku. Ah, sudahlah. Setidaknya biarkan ini jadi portal pertama untuk menjadi macho religi, begitu yg sebenarnya kawan-kawanku berpesan. Hahaha.....

Semoga, sholat subuh perdanaku di mesjid nanti, aku mendapati Rasulullah hadir diantara jamaah subuh dan menoleh kepadaku suatu hari. Ah...jauh ya.



Penuh harap,
Nando.

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…