23 Jan 2012

Beli-beli

Belum sempat saya tulis bagaimana perjalanan terlucu yang saya punya tahun kemarin. Setelah 7 hari saya melaksanakan Umroh dengan keluarga dan kerabat. Kita ber 18 orang, jadi bayangkan kalau bakal rame banget pesawat Emirates kala itu. Kita bikin arisan sendiri. Main kartu sambil godain pramugari-ra. Ganjen religi emang. Setelah satu hari visit di Dubai, bertandang 4 hari di Turki. 


Saat itu tiba di Turki  uda margiban. Dengan kondisi suhu 12 derajat selsius. Dingin memang. Tapi gak sedingin hati abg yang lagi galau. Saat tiba waktu makan malam, kita makan sebentar di kedai china (Turki ini salah satu negara Muslim terbesar.Jadi makanannya sebagian besar halal). Nhaa...di waktu terakhir akan capcuz ke hotel, saya ini tiba-tiba terdapati akan mengalami sistem period tiap bulan. Womenly lah saya pasti kerasa kan? (iya, saya perempuan). Lupanya saya, saya tidak membawa bekal apa-apa untuk hal satu itu. Jadinya saya harus bergegas mencari kios atau toko kecil atau supermarket apapun yang menjual perlengkapan kewanitaan tersebut. Dan, saya sudah menduga, bahwa kebanyakan orang Turki memang tidak bisa bahasa Inggris. *tepok jidat. Ceraitanya, di depan kedai china tadi ada kios kecil. Masuk lah saya ke bangunan bergaya minimalis eropa itu. Kalau kios di Turki, kita hampir tidak bisa self service. Kebanyakan pasti di tanya apa yang akan di beli oleh penjual toko nya. Apalagi muka saya ini muka pribumi Indonesia Raya merdeka merdeka. Klop dah. Saya berusaha mengatakan keinginan saya untuk membeli keperluan period wanita dengan santainya mengatakan, "do you have sanitary napkins?", sungguh sudah saya utarakan hal itu pada penjaga toko. Bapak penjaga itu cuma geleng-geleng tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya, menangkap isyaratnya seraya bertanya pada saya, "kate tuku opo se,nduk (mau beli apa sih, nak)?". Hening sejenak. Ingin saya praktekkan bagaimana caranya mendeskripsikan barang kebutuhan para perempuan itu. Tapi saya bingung juga.Mungkin malah saya diusir sama penjaga tokonya. Saya juga hampir berkata istilah kebanyakan yang di pakai di Indonesia. Tapi juga gak mungkin, saya gak rela ngomongnya. Saya berpikir keras, opsi terakhir adalah memintya tolong tour guide saya yang kebetulan keduanya laki-laki. Siap malu. Dan siap terjun ke Mesjid biru.

Pemakaian bahasa gerak gempita pun gagal. Untungnya ada satu konsumen Turki lainnya yang datang. Selagi pak penjaga toko meladeni si pembeli dadakan tadi, mata saya secara cekatan mencari si sosok sofsof impian. Nhaa... mata saya tertuju pada sebungkus besar benda keinginan saya. Alhamdulillah, sujud sujud kalau ada sajadah. Saya tunjuk barang bermerk itu pada pak penjaga toko dan.... kami pun tertawa toleransi. Jadi, mungkin, saat para sahabat pergi ke suatu negara, jangan lupa untuk 'sangu' bahasa negara tersebut sebagai pelancar. Karena, saya terlihat sangat konyol di hadapan bapak itu. Saya mempermalukan negara saya sendiri. Maafkan saya, Indonesia.




iyi akşamlar,


5 Orang yg bilang gini:

  1. @ Mbak Aik : Makasih, budeee.... *nangis kejer

    @ Mbak Honey : semangat juga, mbaak.

    BalasHapus
  2. emang roti kasur itu bahasa turkine apa?

    BalasHapus
  3. koyok apa iku bentuk e? pernah beli roti kayak kucur, roti rempahan. Tapi mbulet nama e. Semoga itu tour guide uda balik ke Indo, bisa tanya-tanya. :D

    BalasHapus