Langsung ke konten utama

Mengingat diri lagi

"Hidup itu buka ajang berlomba-lomba, Nor."


Itu nasihat sahabat saya, sesaat setelah dia pulang mengajar. Dalam perjalanan saat saya mengantarnya melihat rumah kontrakan yang insya Allah akan ditempati november depan setelah menikah. Di daerah Ngijo sana, dekat dengan rumah makan & pemancingan Pondok Desa...(lha, panjang ceritanya). Banyak hal yang saya ceritakan, karena mungkin dia lah salah satu manusia yang saya percayakan sebagai 'kotak tampungan segala wacana'. Bukan karena kemandiriannya, atau gebrakan ip 4 dari salah satu perguruan tinggi negeri ternama, bukan pula kesabaran dia yang luar biasa. Karena sahabat saya ini amanahnya mengagumkan, jadilah saya suka menyibukkan dirinya untuk berpikir bersama tentang nukilan yang saya ajukan. :)) 

Saya ingat bagaimana ceritanya tentang beberapa teman yang mempunyai ujian yang luar biasa. Perlu bagi saya untuk membuka hati lebar-lebar. Dari quote di mukadimah tadi, saya rasa itu mempresentasikan keharusan untuk menenangkan kehidupan dalam jalur yang benar. Tidak terburu-buru, pun tidak membiarkan jeda yang panjang untuk hal-hal yang tidak bermutu (note to my self). Melihat bagaimana banyak orang yang mengeluh tentang kebutuhan yang belum kunjung tergapai, lalu para kawula muda yang menyibuk diri untuk menjadi terbaik di mata lawan jenis, atau yang lain atau yang lain. Bukan siapa yang lulus duluan, bukan siapa yang tenar, bukan siapa yang menikah duluan, bukan siapa yang sukses mendahului. Karena semua ada waktu dan porsinya. 

Kata teman saya pula, jangan terlalu bingung dengan pencapaian orang lain. Walaupun usaha dan doa kita sama, tetapi hasil itu sudah di atur jauh sebelum kita merencanakannya.  Benarlah nasihat sahabat saya itu. Tidak peduli bentuk cita orang lain, yang penting tiap langkah kita itu benar-benar berjalan sesuai ridho Rabb. Kalau mau hasil yang cepat, pakai saja cara yang tidak halal. Namun berbeda dengan konotasi berkah, cepat atau lambat, (terkadang) tujuan akhir bukanlah suatu target prioritas lagi. Aaah, ini juga bagian dari makna sabar yg memang gak ada tepinya. Subhanallah. 

Saya rasa tidak akan berhenti saya belajar untuk menghargai hidup saya sendiri. Dengan melihat kebaikan dari pelajaran orang lain, sibuk memperbaiki diri. Pun besar harapan, agar diri ini mampu bermajelis dengan baik, tidak menggurui sesiapa, terlebih membuat keburukan dari kelemahan dan keburukan diri. Ah, saya ini.




Wassalam,

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…