26 Okt 2011

Mengingat diri lagi

"Hidup itu buka ajang berlomba-lomba, Nor."


Itu nasihat sahabat saya, sesaat setelah dia pulang mengajar. Dalam perjalanan saat saya mengantarnya melihat rumah kontrakan yang insya Allah akan ditempati november depan setelah menikah. Di daerah Ngijo sana, dekat dengan rumah makan & pemancingan Pondok Desa...(lha, panjang ceritanya). Banyak hal yang saya ceritakan, karena mungkin dia lah salah satu manusia yang saya percayakan sebagai 'kotak tampungan segala wacana'. Bukan karena kemandiriannya, atau gebrakan ip 4 dari salah satu perguruan tinggi negeri ternama, bukan pula kesabaran dia yang luar biasa. Karena sahabat saya ini amanahnya mengagumkan, jadilah saya suka menyibukkan dirinya untuk berpikir bersama tentang nukilan yang saya ajukan. :)) 

Saya ingat bagaimana ceritanya tentang beberapa teman yang mempunyai ujian yang luar biasa. Perlu bagi saya untuk membuka hati lebar-lebar. Dari quote di mukadimah tadi, saya rasa itu mempresentasikan keharusan untuk menenangkan kehidupan dalam jalur yang benar. Tidak terburu-buru, pun tidak membiarkan jeda yang panjang untuk hal-hal yang tidak bermutu (note to my self). Melihat bagaimana banyak orang yang mengeluh tentang kebutuhan yang belum kunjung tergapai, lalu para kawula muda yang menyibuk diri untuk menjadi terbaik di mata lawan jenis, atau yang lain atau yang lain. Bukan siapa yang lulus duluan, bukan siapa yang tenar, bukan siapa yang menikah duluan, bukan siapa yang sukses mendahului. Karena semua ada waktu dan porsinya. 

Kata teman saya pula, jangan terlalu bingung dengan pencapaian orang lain. Walaupun usaha dan doa kita sama, tetapi hasil itu sudah di atur jauh sebelum kita merencanakannya.  Benarlah nasihat sahabat saya itu. Tidak peduli bentuk cita orang lain, yang penting tiap langkah kita itu benar-benar berjalan sesuai ridho Rabb. Kalau mau hasil yang cepat, pakai saja cara yang tidak halal. Namun berbeda dengan konotasi berkah, cepat atau lambat, (terkadang) tujuan akhir bukanlah suatu target prioritas lagi. Aaah, ini juga bagian dari makna sabar yg memang gak ada tepinya. Subhanallah. 

Saya rasa tidak akan berhenti saya belajar untuk menghargai hidup saya sendiri. Dengan melihat kebaikan dari pelajaran orang lain, sibuk memperbaiki diri. Pun besar harapan, agar diri ini mampu bermajelis dengan baik, tidak menggurui sesiapa, terlebih membuat keburukan dari kelemahan dan keburukan diri. Ah, saya ini.




Wassalam,

2 Orang yg bilang gini:

  1. Dengan menghargai diri sendiri, otomatis kita akan terbiasa menghargai orang lain. :)

    BalasHapus
  2. Melihat bagaimana banyak orang yang mengeluh tentang kebutuhan yang belum kunjung tergapai, lalu para kawula muda yang menyibuk diri untuk menjadi terbaik di mata lawan jenis, atau yang lain atau yang lain. Bukan siapa yang lulus duluan, bukan siapa yang tenar, bukan siapa yang menikah duluan, bukan siapa yang sukses mendahului. Karena semua ada waktu dan porsinya.

    Kata teman saya pula, jangan terlalu bingung dengan pencapaian orang lain. Walaupun usaha dan doa kita sama, tetapi hasil itu sudah di atur jauh sebelum kita merencanakannya.

    >> mantep jeng. boleh gak aku kutip sebagian isi postinganu untuk di tumblr? ini linknya: http://loveandpost.tumblr.com/post/12091923683

    BalasHapus