Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Penutup hidup mu, ya Habibie.

Diri, ingatlah sesiapa manusia yang membawa risalah untuk mu ini. Akuilah ia pembawa pesan untukmu, diri. Sudahkah kau pelajari ajarannya? Sudahkah kau amalkan kelain-lainnya? Apa sudah kau mulaikan mencintainya? Semisal rindu untuk lebih mengenalnya, hingga basah bibirmu bershalawat? Lalu kau percaya akan hari akhir, namun bekal sama sekali masih setitik air.




Lalu diri, kau ini umat siapa?



Mengingat diri lagi

"Hidup itu buka ajang berlomba-lomba, Nor."


Itu nasihat sahabat saya, sesaat setelah dia pulang mengajar. Dalam perjalanan saat saya mengantarnya melihat rumah kontrakan yang insya Allah akan ditempati november depan setelah menikah. Di daerah Ngijo sana, dekat dengan rumah makan & pemancingan Pondok Desa...(lha, panjang ceritanya). Banyak hal yang saya ceritakan, karena mungkin dia lah salah satu manusia yang saya percayakan sebagai 'kotak tampungan segala wacana'. Bukan karena kemandiriannya, atau gebrakan ip 4 dari salah satu perguruan tinggi negeri ternama, bukan pula kesabaran dia yang luar biasa. Karena sahabat saya ini amanahnya mengagumkan, jadilah saya suka menyibukkan dirinya untuk berpikir bersama tentang nukilan yang saya ajukan. :)) 
Saya ingat bagaimana ceritanya tentang beberapa teman yang mempunyai ujian yang luar biasa. Perlu bagi saya untuk membuka hati lebar-lebar. Dari quote di mukadimah tadi, saya rasa itu mempresentasikan keharusan untuk menen…

Kewajanan

Saya rasa lucu aja, sahabat saya yang akan menikah november depan. Ada perbincangan khusus di kamar saya, tentu antara saya dan sahabat saya itu. Saya sih yang bertanya duluan. Perihal tentang makanan kegemaran calon mahram*nya tersebut. Dia menggeleng. Cerita berbuntut very past-nya. Salah satu tante calon mahram sahabat saya itu, sebut saja Rendra, yang hampir di ajak ke negeri koala tersebut, keseringan di beri makanan kebaratan. Sampai-sampai kebiasaan nasi dan topping keju saja menjadi makanan favoritnya sampai saat ini. =)) Indah, bukan? Perkawinan bahan antara west dan local yang sempyurna (munyun).
Saya lalu ber-ide, menuang sedikit pengalaman saya tentang makanan begituan. Saya suka masakan barat dan segala cainis fud. Dan saya doyan sangat tentang masak-masakan dengan bahan-bahan lokal. Saya bagi ilmu saya bagaimana caranya bikin pancake kentang dan saus kacang merah. Yang paling gampang adalah pasta spageti (ukuran 1-1) dengan saus bolognaise, atau saya saos jamur sosis at…

Menyaung diri

Berani jatuh cinta itu hebat,berani patah hati itu bijak.Berani melamar itu macho.

Modal mencintai memang hanya membutuhkn Hati. Selebihnya adalah 'biaya' lain². Lalu selanjutnya hati harus kau PERINGATI agar tak berlebih.

Karena jatuh cinta tidak butuh keahlian, maka nikmati saja selagi berkebaikan. Bukan kah 'ia' indah? Lalu mengapa kau tanggapi dengan berlinang air mata?!

Andai saja kau mencintai Rabb mu seperti (minimal) menyayangi yang terkasihmu. Faktanya,kau tidak menahu kadar cintamu pada Nya.

Rabb mu hanya kau tempatkan sebagai Dzat permanen untuk  meminta & mengeluh. Kau hanya berucap memujaNya. Namun tidak hatimu. Itu hanya terlihat formal sebagai hambaNya.

Lalu kau bertanya,bagaimana cara mencintai Mu, wahai Penguasa Hati ku?! Mengibadahi tiap tekuk sujud?Membaca Firman Nya? Menyedekah berkarung² rupiah?



(Catatan pengingat untuk hati...diri)



Salam,
Renotxa