Langsung ke konten utama

Is missing someone

Seorang anak laki-laki berkulit gelap dan berambut keriting itu duduk sendiri di bibir pantai saat matahari 'menghitam' perlahan. Menunggu panggilan magrib sekalian kawanan teman yg dia tunggu untuk pergi ke masjid yg hanya beberapa langkah lari saja. Ibu nya mungkin sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk suami dan 8 anaknya. Ayahnya, baru saja pulang melaut, pekerjaan mulia sebagai pencari ikan yg tidak gampang kelihatannya.

Setelah Isya anak laki-laki itu bermain sepak bola di pinggir pantai, yg memang selingkungan dengan rumah apung Ayah-Ibunya. Bercanda melempar pasir putih, menghempas tubuh di pasir lembut sesekali bercerita rencana tentang masa depan mereka, menjadi tentara. Lalu tiap ibunya memanggil untuk segera pulang, karena masakan idaman sudah tersiapkan panas di meja. Dengan kerabat dan keluarga besar. Nikmat, kala itu saat dia masih kecil. Karena tidak ada "jalan" kesedihan oleh Nya selama hidup yg di jalaninya.

Beranjak besar, saat Ayahnya telah tiada lagi hadir di tengah mereka. Bocah itu sudah menjadi pria dewasa. Pergi merantau menuntut ilmu yg jauh dari bumi tercintanya. Hingga saat dia memutuskan untuk berkeluarga, tak banyak yg tahu antar sesama teman yg mengakrabinya dulu. Dia, benar-benar sudah menjadi pekerja kantoran, bukan tentara dan cita-cita lainnya menjadi kuli tinta.

Malam itu, saat malam di umur 7 tahun ku. Aku berjalan berdua dengan pria yg sekarang kusebut Papa. Banyak hal yg kami bicarakan, mulai lomba menggambar di sekolah, hafalan perkalian satu sampai sepuluh, atau tugas IPA meneliti bunga sepatu. Sungguh, detik-detik saat itu sangat privasi menurutku. Sembari duduk di teras kecil rumah kami, melihat bintang jatuh dan bulan sebesar kubah Masjid, menurutku, duhai indahnya masa kecil bersama Papa kala itu.

Ah, sudah besar begini, tiada berani aku memeluknya, mencium pundaknya setelah mandi, lalu mencoba berlomba menaiki punggungnya, atau membuka pembicaraan serius tentang anggota parlemen favorit kita. Suatu saat mungkin, amin, bilakah Papa melihat ku bangga dengan karya yg bisa membesarkan namanya, yg sekarang tersemat di belakang nama ku. Entahlah. Mungkin dengan tidak mengurusi kebutuhan logistik orang sepertinya. Tapi dengan cara ku sendiri. Papa hanya mengangguk dan tersenyum, setiap ada pertanyaan menjurus tentang masa depan ku. "Tidak mengapa", kata nya itu.

Dan sekarang, setelah 35 tahun kepergian nya dari kampung tercinta, Rumbati. Ayah Ibunya akan bangga di atas sana, tersenyum bahagia bersama Rabb nya, karena prestasi anak kecil yg dahulu nakal tak terkendali oleh keduanya. Insya Allah, Papa. :)





With Love to Papa,

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…