Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2011

Arek njaluk di kethak

Si adek tiba-tiba datang. Duduk di tempat tidur saya, sembari saya menyisir alis mata. Huyeea. Biasanya, dia punya keperluan dengan mengaku telah meminjam barang saya, menghilangkannya, atau menghabiskan bensin kendaraan atau apalah. Kali ini tidak. Kalem banget mukanya, seperti es krim baru pertama keluar dari pabrik nya. "Tau gak? ente ane kenalin sama kakaknya temen ane di Bandung sono. Dia dulu cari ilmu di sekolah kepemerintahan gitu deh. Sekarang jadi Camat kota Gonderubekolu*". LoL gak sih? Tiba-tiba tuh anak nawarin mbak nya sama Om-Om yg gak tau juga nama belakangnya siapa. "Dia masih muda kok. Cuma ya gitu...". (perasaan saya sudah mulai mengarah ke dedengkot yg bernama GAK ENAK). "Bisa jatuh harga diri dia kalo sama ente. soalnya mantan-mantan nya yg dulu pramugari, tinggi, cantik". --Percakapan berakhir dengan lemparan granat--.
Beberapa hari setelahnya, si bibir gede itu duduk di sebelah saya, sembari saya membaca Bobo edisi 104 tentang Smash.…

Is missing someone

Seorang anak laki-laki berkulit gelap dan berambut keriting itu duduk sendiri di bibir pantai saat matahari 'menghitam' perlahan. Menunggu panggilan magrib sekalian kawanan teman yg dia tunggu untuk pergi ke masjid yg hanya beberapa langkah lari saja. Ibu nya mungkin sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk suami dan 8 anaknya. Ayahnya, baru saja pulang melaut, pekerjaan mulia sebagai pencari ikan yg tidak gampang kelihatannya.
Setelah Isya anak laki-laki itu bermain sepak bola di pinggir pantai, yg memang selingkungan dengan rumah apung Ayah-Ibunya. Bercanda melempar pasir putih, menghempas tubuh di pasir lembut sesekali bercerita rencana tentang masa depan mereka, menjadi tentara. Lalu tiap ibunya memanggil untuk segera pulang, karena masakan idaman sudah tersiapkan panas di meja. Dengan kerabat dan keluarga besar. Nikmat, kala itu saat dia masih kecil. Karena tidak ada "jalan" kesedihan oleh Nya selama hidup yg di jalaninya.
Beranjak besar, saat Ayahnya telah tiad…

Memori yg mengapa

Saya sedang merindukan sahabat-sahabat saya di masa lalu. Entah kemulaan seperti apa, tapi setelah saya berdiam 10 detik lalu, memikirkan sejenak akan di tulis apa postingan kali ini. Saya, rindu mereka. Tadi siang, atau dari kemarin siang, dua email masuk bersambut. Dari Dwi, salah satu sahabat saya, yg baru saja 2 minggu ini menjadi seorang bunda.
Muhammad Yahya Abdulrohman Hanif, saya mampu mengingat nama makhluk kecil itu hanya dengan sekali membaca dari sms. Foto-foto lucu dari Hanif dan bundanya, Dwi, tiba-tiba membawa saya jauh kebelakang. Dimana saya, Dwi, dan Mbak Reti, sesekali berencana dalam imaji kami sendiri 7 tahun lalu, mungkin. Saat punya anak nanti, saat anak kami besar, bagaimana kami saling berdoa untuk bertetangga di dunia pun di akhirat kelak. Ah, nikmatnya.

Tahun-tahun berlari cepat sekali. Saya rasa. Tidak ada salahnya tho saya bersedih sebentar? Bukan sedih karena jarak akan membuat susah untuk kami bertemu. Tapi karena saya rinduuuuuuuuu bukan main. Well, memor…

Dengarkan sebentar, dong... :)

Assalamualaikum, Terkadang memang saya butuh cerita ya? Hmm, gini. Maksud saya selain 'bercerita' dalam tulisan, secara riil saya harus berkomunikasi secara personal. Renotxa is not a personal officially, yes. Walaupun saya mencoba tetap bertahan untuk tetap dalam pendirian saya, nyatanya. Saya memang butuh pendengar. Tapi zuzur lho, saya rasa Saung bukan lah tipikal media yg sebegitu privasinya. Well, perhaps somebody doesn't think like i do. Lalu apakah saya punya masalah? Huoo, terlalu telat kalau berbicara begitu. Tiap orang rasanya punya variasi masalah yg unik. Saya sendiri pun begitu.
Sebetulnya mungkin saya termasuk orang yg tidak mau membagi masalah pun terhadap sahabat dan saudara saya. Dengan tidak menodai isi rasa "bersama dalam suka duka" itu sendiri. Saya lebih suka kalau tidak merepotkan orang lain untuk ikut bersedih, dan pula memikirkan solusi. Dukungan, senyuman, pelukan(buat yg muhrim) saja sudah cukup berarti dalam energi positif untuk saya. Sa…