Langsung ke konten utama

It started badly, Amy

[Bagian 1]

Amy sedari tadi hanya memutar sendok di cangkir mediumnya, tak perduli coklat panasnya sudah dingin. Di depannya, Ghema, hanya memandanginya sesekali. Agak aneh rasanya duduk berdua tanpa titik koma pada pembicaraan setelah Ghema tanpa sengaja menyebut nama Reza. Amy hanya terdiam beberapa saat. Dia tahu, orang yg disebutkan Ghema adalah orang yg spesial pada dulu nya.

Amy berusia 15 tahun saat duduk di sekolah menengah pertama, di bangku kelas akhir. Tak banyak murid yg ia kenal saat itu. Beberapa minggu setelahnya, Amy di kelompok kan pada tugas mengarang bahasa Indonesias beserta 6 murid yg lain. Amy tak begitu mengenal tiap anggotanya. Yg dia tahu, well, tidak begitu tahu, hanya Reza, anak laki-laki yg menurut rumor adalah orang yg anti sosial terhadap anak perempuan. Bermasalahkah? Amy yg tak menggubris berita mulut. Sedang dia sendiri belum pernah berbicara apalagi bersosialisasi. Lalu dengan niat mengumpulkan anggota yg dan membagi tugas, orang pertama yg dituju adalah Reza.
Awalnya, Reza nampak bercengkrama dengan anak laki-laki yg lain, namun setelah Amy mendekat dan menyapa saapn pertamanya, raut wajah Reza mendadak berubah. Tatapan curiga dan tak suka nampak jelas dari mimiknya. Setelah menerangkan tugas tadi, Reza dengan tanpa menatap Amy hanya berkomentar pedas, "Ada lagi yg mau di sampaikan?", sambil beralih pandangan pada teman laki-laki yg lain. Amy yg merasa tersinggung, memukul meja kelas tepat di depan Reza. "Tak bisa kah kau bersikap sopan pada perempuan?", lalu berlalu meninggalkan Reza dan teman-teman yg lain.

Itu adalah awal mula Amy, tepat sepuluh tahun lalu saat pertemuaannya dengan Reza, orang yg tak dianya datang bgitu saja dalam kehidupannya. Tak tahu apa perasaan Amy sekarang pada Reza, atau bagaimana hubungan mereka setelah satu dekade ini? Ghema mencoba menghibur sahabatnya itu. Hanya saja dia mungkin akan memesan secangkir coklat panas dan meminum yg dingin. Amy tersenyum, dia mencoba mengingat sosok Reza pada akhirnya. Giliran Ghema yg bingung dengan perubahan Amy.

Keesokan hari setelah kejadian yg menggemparkan kelas tersebut, Amy, yg sama sekali tidak menaruh harapan pada kelompok belajarnya, di kagetkan dengan perilaku Reza yg mendadak "aneh". Ini diperkuat dengan adanya cerita dari beberapa teman perempuan satu kelasnya, bahwa Reza menyapa hampir seluruh anak perempuan di area belajar mereka. Aneh? Amy sama sekali tidak perduli tentang perubahan Reza, yg jelas dia hanya ingin perkerjaan dengan kelompoknya akan segera berakhir. Lepas dari Reza? Salah satunya. "Dia berubah karena teguranmu", kata seorang teman pada Amy.

Lalu apa maksud Amy mengingat hal tentang Reza? Padahal sudah beberapa tahun ini dia tidak mendengar kabar apa-apa. "Aku ingat betul, pada mulanya setelah kejadian itu. Banyak hal kecil yg kami lakukan bersama teman-teman yg lain. Dia baik, hanya saja tak tahu bagaimana caranya perlakukan perempuan pada porsinya. Kau percaya Ghema? Kami menghabiskan sleuruh liburan sekolah bersama. Bersama teman-teman lain tentunya. Dia teman yg menyenangkan. Seperti yg lain. Kami bergantian mengunjungi seluruh rumah teman-teman sampai keluarga mereka mengenali baik kami semua". Ghema tersenyum, ada yg bahagia pada akhirnya setelah awal mula yg menegangkan. Amy sangat tidak buruk mengingat semua hal tentang salah satu sahabat terbaiknya itu. "Lalu?", tanya Ghema. "Kami terpisah saat pindah sekolah. Dan tidak bertemu setelah beberapa tahun. Dan semua berjalan normal", sambung Amy. Sedih tentu saja menghinggapinya dan mungkin semua orang pula, saat ada perpisahan dalam model apapun.

Amy sedang merasa ingin mengisi kelaparannya dengan makanan luar. Bersama Mario, menyusuri beberpa kilometer dari rumah. Memesan makanan untuk di bawa pulang, dan...Menunggu. Semua hal berjalan lancar seperti waktu-waktu yg biasanya. Sampai matanya teralih pada seorang wanita cantik yg duduk di seberang meja restauran. Seperti seseorang yg ia kenal, Amy berusaha memutar memorinya, dan mendapati fakta bahwa wanita itu adalah Ibu Reza. Ia tak sadar, di sebelahnya duduk manis...Reza.



[bersambung]

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…