Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

a-j-a-r

Ini dia beberapa rencana seru yg secara resmi akan di kumandangkan minggu depan. Agak aneh, tapi agak-agak geli kalo di fantasikan. Masih ingat beberapa postingan sering banget nulis kegiatan dengan kata ajar ? Nha, pada kata dasar itulah yg beberapa saat lagi berkaitan dengan proyek hati yg akan saya lakukan dengan beberapa teman-teman baik hati lainnya. Kami akan menjadi "pengajar sukarelawan" suatu tempat. Dan khayalan saya jadinya...
Saat jam mengajar, saya pakai jas hujan kulit macan ukuran 7/8. Berjalan di lorong menuju kelas dengan membawa map besar (isi poster J-Bieber) dan penggaris kayu 50 cm. Dengan sepatu ber-hak 8 cm berwarna krem yg disesuaikan dengan tutul macan. Sampai di depan kelas pake salam macan yg jadi trademark Trio Macan, "Hrrraaaaugh...!".
Better skip it all, guys. It's just a bad imagine. A part of stress, Lalu di akhir pelajaran, saya kasih mereka tugas rumah yg materinya tentang Geometri pada matrik kode (nha lho, makin panjang urusann…

what kind of her can't(s)

Yang tidak bisa dilakukan para perempuan di sekitar saya yg kira dikira kayak begini nih :

-. Tidak bisa sebentar saja di depan kaca.
-. Tidak bisa diam melihat teman/kerabatnya bermuka murung sekotak tempat sepatu.
-. Tidak bisa membiarkan diam jadi ekspresi perasaan. Selalu ada gerik yg bergerak.
-. Tidak bisa di biarkan menunggu lama untuk jawaban, "I DO".
-. Tidak bisa di biarkan untuk tidak diperhatikan pada hasil karya atau apa yg di pakainya.
-. Tidak bisa mendua kalau resikonya merusak setia.
-. Tidak bisa mengurung sedih.
-. Tidak bisa juga menahan bahagia.


Dengan tidak menghiraukan perasaan minoritas selain di atas (baca : tidak semua perempuan mempunyai sifat tidak bisa ini), masih banyak ketidakbisaan lain yg jadi misteri lain di dunia ini. (Backsound : Alda-aku tak biasa).



Chachao,
Ʀзηōτχα™

Mama Eli itu....

Status nengbiker barusan yg saya baca, "...dan ngomong-ngomong pengabdian terhadap keluarga, ibu saja juaranya". Saya berpikir, pake otak kali ini, bukan pake jempol kaki kayak biasanya. Saya belum pernah jadi ibu, belum pernah punya anak lagi. Kalo jadi ibu asuh, pernah. Ngasuh 10 ekor kucing di rumah itu sangat menguras tenaga. Tiba-tiba ingat emak saya dirumah. Pengabdian nya itu loh luar biasa jagonya.
Saya akan terbuka saja, ini demi catatan diri , bukan mau pamer gigi behelnya adek saya. Emak saya rela jauh bertahun-tahun dengan suaminya demi anak-anaknya. Saat satu pulau menuju pulau lain jaraknya beratus-ratus kilo. Emak saya memilih bolak-balik Papua-Malang demi suami dan anak-anaknya. Emak saya, rela tidak membela dirinya dan memilih diam saat masalah keluarga besar menyudutkannya dengan alasan yg tidak logis. Emak saya juga, yg merangkul anak-anaknya, memeluk, sesekali membanggakan anaknya sambil menangis di saat kami menyakiti, mengecewakannya. It's the sweete…

Teman-teman

Mulai dari hari kemarin saya mengalami kemulaan yg sangat besar dampaknya buat kehidupan saya. Saya tidak memulai program penggemukan karena saya memang tidak bisa gemuk kecuali pasca operasi. Badan saya kecil kok, cuma ada 49 kg daging, itu sudah termasuk tulang, darah, urat, sama isi otak. Ini tentang hal pengajaran. Saya tidak bisa bercerita banyak. Mungkin setelah ini saya punya cerita yg banyak tentang hal mengajar. Karena cita-cita saya makin kemari adalah berbagi. Tidak tahu-tahu-berbagi. Saya tidak mencoba untuk menghitung berapa apa yg sudah saya curahkan. Tapi saya tidak sabar untuk melihat hasil yg saya bentuk. Seru? Insya Allah iya. Ini proyek besar. Mungkin dengan bercerita ada yg mau bergabung dengan saya dalam proyek hati, saya menyebutnya begitu. Tapi bukan perihal mak comblang lho ya. Jangan salah tangkap. Nanti tiba-tiba banyak sms atau email yg masuk mau joinan cari pasangan. Beuuuh.
Apalagi ditambah kesibukan saya kalau nanti mulai perkuliahan (lagi). It will be fu…

Buzzing

Saat ini sedang asyik masyuk mendengarkan Maher zain. Pada tahu kan? Yg gak tahu diusir keluar bumi ke planet Jupiter sono (kediaman Om Je). Saya paham, atau di paksa paham, bahwa Maher dan saya punya kesamaan. Kita manusia ya,boo. Saya sangat menyukai proyek religi dalam hal apapun. Mungkin sering saya sebutkan, saya sangat menyukai Peter Sanders dalam kefotografian tentang Islam, atau Saimafillah dengan karya tulisannya. Dalam bahasa anak muda yg mudah di cerna, indah.
Bagaimana mereka bisa eksis ya?!



1. Maher



2. Peter Sanders



3. Salimafillah





Salam,

Saatnya

[bagian 3]
Sontak Amy terkejut degan pertemuannya kembali dengan Reza. Menyapanya saja harus dengan keberanian yg besar. Apalagi merespon Reza. Mereka hanya duduk berdua di ruang tamu. Diam. "Bagaimana?", tanya Reza. Amy masih bingung. "Apa harus kujawab sekarang?". Tanya nya. Reza mengangguk. Amy berpikir keras, perasaan dan pikirannya beracak. 10 menit tanpa bicara membuat Amy harus segera memutuskan. Mendominasikan salah satu elemen di tubuhnya. Hatikah? atau logika?. "Reza, apa kau sadar saat memintaku?", Reza tersenyum. "Maka dengan sangat sadar pula aku memilih menjadi sahabat mu seumur hidup. Cukup adilkah buatmu?", tukas Amy sangat berhati-hati.
"Kau menolaknya?", Ghema terkejut. Jawaban sahabatnya sangat tidak masuk akal. Dia tahu betul Reza selalu jadi topik utama tiap kali mereka bertemu. Ghema memang tidak mengenal Reza, hanya saja dulu, Amy sering sekali menyebut Reza sebagai lelaki ganas yg berhati. Itu cukup memebuktikan …

Masa jeda yg berat

[bagian 2]

Amy lalu terdiam, menghela napas panjang sambil sesekali memamerkan senyumnya pada Ghema. "Itu awal yg bagus. Lalu apa dia menyapamu?". Ghema berusaha keras ingin mengetahui keseluruhan cerita. Semua biasa saja menurut Amy. Tak ada yg istimewa. Dia meneruskan lagi.
Amy mendekati wanita itu dan Reza, tentunya. Saling menanya kabar, berbagi cerita, dan bertukar nomor ponsel. Ada yg patut di syukuri kala itu. Tak kehilangan kontak dengan pelaku lama kehidupannya. "Dia nampak senang bertemu denganmu. Mukanya memerah seperti tomat di panci sup", kata Mario, sepupu pemerhati, sesampainya di rumah. Tak ada yg spesial di sana, batin Amy. Beberapa waktu akhirnya, setelah bertukar ponsel, mencoba saling menghubungi. (Bahkan pembaca mulai berpikir ini akan berakhir dengan memasangkan Amy dan Reza. Tidak). Semua hal yg berputar secara stabil. Tak ada yg istimewa.
"Aku mulai menyukainya". Ghema terkejut dengan pengakuan Amy. "Aku menyukainya saat dia tid…

It started badly, Amy

[Bagian 1]
Amy sedari tadi hanya memutar sendok di cangkir mediumnya, tak perduli coklat panasnya sudah dingin. Di depannya, Ghema, hanya memandanginya sesekali. Agak aneh rasanya duduk berdua tanpa titik koma pada pembicaraan setelah Ghema tanpa sengaja menyebut nama Reza. Amy hanya terdiam beberapa saat. Dia tahu, orang yg disebutkan Ghema adalah orang yg spesial pada dulu nya.
Amy berusia 15 tahun saat duduk di sekolah menengah pertama, di bangku kelas akhir. Tak banyak murid yg ia kenal saat itu. Beberapa minggu setelahnya, Amy di kelompok kan pada tugas mengarang bahasa Indonesias beserta 6 murid yg lain. Amy tak begitu mengenal tiap anggotanya. Yg dia tahu, well, tidak begitu tahu, hanya Reza, anak laki-laki yg menurut rumor adalah orang yg anti sosial terhadap anak perempuan. Bermasalahkah? Amy yg tak menggubris berita mulut. Sedang dia sendiri belum pernah berbicara apalagi bersosialisasi. Lalu dengan niat mengumpulkan anggota yg dan membagi tugas, orang pertama yg dituju adalah…