Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari April, 2011

Kemarin ya

Ada yg bisa bantu saya, bagaimana pelupa bisa jadi nama tengah saya? Saya sangat tidak nyaman untuk hal satu ini, walaupun terkadang saya menikmati (lho?). Iya, selain suka melukai diri sendiri, ingatan saya tentang sesuatu itu sangat lemah. Beruntung banyak yg mengingatkan saya. Mulai dari dimana saya meletakkan dompet atau jam tangan, karcis parkir, sampai dimana saya memarkir pesawat airbus saya (imaji saya menjijikkan kan?). Nha, beruntung, dalam Islam, lupa itu salah satu cara menggugurkan dosa ya? Duh, jangan sampai lupa orang tua, bisa di qishas nanti.
Tiga hari lalu, saya asyik masyuk ambil rejeki di kamar bermesin terdekat. Bahasa jawanya ATM. Seingat saya setelah ambil duit, langsung keluar kartu dan viola, saya masukkan uang lalu kartu setelahnya ke dompet. Selang beberapa jam setelah itu, saya iseng ngecek kartu-kartu yg ada di dompet.
Askes = checkedKartu puskesmas = checkedKartu voucher bakso Daman = checkedKartu Tilang = checkedKartu diskon makanan kucing = checkedKartu…

Begini lho....

I was wondering about one thing. Pernahkah para lelaki tahu apa yg dibicarakan kami tentang cita-cita? Manager Bank, pengusaha cafe di pusat kota, pilot pesawat, penyelam profesional dengan bayaran tinggi? Bisa lah. Seperti pelangi setelah hujan, jawaban itu variatif. Semua baik selama itu baik, selama cita-cita nya bukan jadi perempuan siap di madu. Kami juga mempunyai cita-cita di cintai pria semacam Kartono(versi pria Kartini).
Emak saya dulu, dengan kehidupan yang sederhana, punya cita-cita mulia dengan menjadi istri tukang becak. Alasannya simpel. Biar bisa kemana-mana. Itu keren booo. Mungkin atas usaha, doa, dan takdir Sang Empu Dunia Akhirat, si Emak bisa kemana-mana dengan suami impiannya itu. :))
Balik ke cita-cita tadi, saya, yg mewakili Nola AB Three, Kartini jaman milineum, jaman penculikan lalu di cuci otak, juga punya cita-cita mulia lho. Selain jadi pengajar, diajar, mengajar, belajar (semua konteks dengan kata dasar belajar). Hahaha... Terus bisa menulis, tidak hanya b…

Apa ya..?!

Ini saya lagi rajin ya bo nulis jurnal. Kalu saya rajin gini, emak sama bapak pasti senang ya punya anak macam si nduk ini. Pasti uda pada tahu, selain rumah, tempat pengetikan jurnal yg paling asyik itu di tempat pencucian becak. Dengan ruang tunggu berAC, kudapan raisin cake sama coklat hangat, fasilitas internet yg halal benar untuk di gunakan. Sunah soalnya. :)
Ini mau menulis apa? Ada request? Setelah begadang semalam, bangun pagi dan bersiap mendaftarkan diri pada formalitasan si empu nya ilmu (jangan di tebak, pengacauan kalimat dapat membuat pembaca di cuci otaknya). Ohoooo, saya ada tema. Pasti pada tahu dan punya yg namanya belekberi ya?! Itu nho, gadget qwerty yg sudah jadi terkenal seantero dunia akhirat. Beberapa pasti setuju, kalau ada newbie yg baru atau akan membeli itu bebeh pasti akan ada nasihat bijak dari teteman mereka. "Jangan lebay statusnya ya?" atau gini juga kata si Paimin, "Selamat datang di dunia anti sosial". :)) Lha, yg banyak terjadi …

Senyum Melulu

Karena ada memasang tivi kabel di rumah sejak jaman batu, (mikir)(dari dulu tivi memang berkabel), alhamdulillah hidup saya sekarang berwarna. Jelas, karena televisi saya memang model seri berwarna. *dihujat massal. Okei, jadi, setelah menambahkan satu cenel Komedi. Maka, saya punya kewajiban untuk melongoi tu benda berkotak. Karena serial komedinya juga banyaaaaak (hitung berapa huruf A nya?) yg pada jadul jaman neneknya nenek. Jadi 4 kali lompatan di silsilah keluarga. Berarti bisa di hitung 400 tahun yg lalu sebelum masehi. Eh... ada yg tahu televisi di ciptakan tahun berapa? :))
Okei, selain The Cosby Show yg tetap jadi favorit saya, karena Mr.Huxtable itu miriiiiiip banget sama bapak saya yg paling ganteng se Papua sono nho, saya sekarang rajin banget ikuti Three's company ini.


Saya jadi khusyuk menikmatii gaya humor orang jaman dulu. Pemeran pria jago masak tapi pura-pura ngaku gay, dan dua teman wanitanya yg satu nya telat-loading, yg satu jadi korban kekonyolan teman yg lain…

Tekad bulat si Nduk

Karena ada perombakan besar di rumah, saya dipaksa harus memindah kamar dari depan ke tengah. Kamar yg sebelumnya di tempati emak, nantinya akan saya diami. :(( Nha, karena historikal kamar emak itu horonya tingkat bonus. Macem-macem sejarahnya. Selain, keadaannya dulu agak "suram", juga, apa ya? Ya pokoknya bikin deg-deg-ser lah. Saya pun juga pernah tuh "salam" dari si mbak han(tu). Edeeeuy, ini pun setelah di paksa setengah mati dengan makanan (memang murahan sayanya), manut saja kata emak.
Demi mengurangi kesan mistis calon kamar saya, emak membebaskan saya mendesain sendiri kamar saya. Mulai dari penambahan jendela besar, kamar mandi, wallpaper, sampai lampu. Hihihi.. Jadi, di mulai dari kamar mandi, impian saya selama ini kan punya ruangan pribadi yg bernuansa alam centil. :D Ya, dengan lantai berbatu dan dinding kayu atau corak tumbuhan. Terus di tambah kandang biawak di plafon nya. Centil kan? :))
Masalah wallpaper tadi uda sempat lihat sana sini, tema nya pu…

Friend don't do that

Harusnya, saya ini sudah pintar memilah mana pribadi masyarakat dan pribadi keluarga. Terlalu "tua" rasanya menyesal sekarang. Setelah banyak kejadian menguras hati pikiran. Semua seperti belum cukup membuktikan kalau si tengil ini bis melampaui segala sesuatu tidak lagi seperti anak kecil.
Sebelnya, saya seperti orang yg tidak mengenal diri sendiri. Bisa menghadapi orang lain, tapi beda "suhu" kalau sudah dirumah. Terlalu manja lah, oportunis lah, ya, yg gak biasa di lakukan saat ada di "garis depan rumah". Ada beberapa hal yg harus saya seleksi kemudian. Tentang pertemanan mungkin. Rasanya sekarang saya harus mengubah sedikit cara pandang saya kepada mereka. Dengan rasa hormat yg sangat tinggi. Saya sadar, tidak semua orang menerima saya UTUH sebgai teman. :) Alhamdulillah. Itu ujian lain yg bisa saya terima pada akhirnya. Melihat saya sendiri, membalikkan nya, apakah saya cukup "penuh" menerima mereka. Tidak ada paling tidak-saya loh-saya leb…

Air banyak di laut

Gegara ada iklan "bau-bau" Laut. Saya jadi ingat cita-cita saya 2-3 tahun yang lalu. Mulia banget. Jadi fotografer bawah laut. Itu pun muncul setelah pelajaran menyelam pertama kali secara memakai alat ini itu, diantara nya sepatu katak, kacamata "kuda", selang "taman" plus tabung "LPG" 30 kg. Buseet dah. Itu pun muncul dan terpatri selama 2 jam saja, Gak berlangsung lama sih :)) . Walaupun saya ini bukan anak pantai kayak bapak saya yg ayahnya seorang nelayan (hormat graak) yang jago banget renang plus nyelam tradisional, setidaknya kalau disuruh nolongin anak kecil tenggelam di kolam renang 100 cm aja mah jago banget saya. Mengingat pelajaran berenang dan menyelam secara otodidak dari bapak di pantai Papua sono nho dahulu kala saat bapak masih bertugas di surga dunia yg biasa disebut Papua, yaa, terus sempat tenggelam, kemasukan air asin, digigit Agas ketusuk duri "babi" sudah di lampaui. "Saya siap dengan hal yg baru" -- P…

Ucap-ucap

Dari tahun ke tahun saya belum pernah merayakan eksistensi saya di dunia maya. Padahal, menurut kebanyakan orang itu salah satu bentuk penghormatan terhadap karya sendiri ya? Sebagian dari kamu-kamu-kamu-lagi. Well, setidaknya saya sangat meyakini ini adalah tahun ke tujuh saya masuk ke dalam kanca elektronik penjurnalan. Walau pun menulis adalah hal yg sudah terbiasa dari sejak saya masih belum bisa menulis. *ngaco.
Awal yg bermula yg menjadi kemulaian ketertarikan pada menulis adalah karena Majalah Bobo. Terima kasih, emak bapak. Langganan Bobo selama 10 tahun itu luar biasa pengaruhnya dalam diri wanita puber ini. Mulai pembelajaran Paman Gembul, Oki & Nirmala, si Bona gajah pink itu. Membuat "novel" kecil yg dibagi-bagikan pada kekawan saat duduk di bangku sekolah dasar (ingat, bukan bangku warteg kayak biasanya). So much fun lah kala itu. Lalu sempat berhenti buat cerbung karena asik dengan sahabat pena. Wedeuh, doeloe tuh. Saya paling getol cari teman se seluruh In…

Options to choose

Setiap saya menyambung komunikasi dengan sahabat saya, Mbak Reti. Pasti selalu ada hasil yg baik dari pembicaraan kami (ini tidak termasuk pasca pernikahan tante KD atau kasus Melinda Dee). Dia tahu persis, bagaimana saya luar dan dalam (otak). Bagaimana saya tidak mengkonsumsi protein hewani kelautan, santanan, dan bagian dalam pada hewan ternak. Okei, begini. Agak lebih intim saat saya menulis ini.
Karena didera rasa kebimbangan luar biasa dahsyatnya. Yg mengharuskan saya memilih dari kedua opsi, atau bahkan tiga sampai sepuluh di umur yg segini banyaknya (baca : 14 tahun), lalu saya mencari sahabat saya yg satu itu untuk di dengarkan pecahan solusinya. FYI, terkadang, manusia dituntut untuk cepat memutuskan suatu perkara dari dirinya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Iya gak? Lha, itu susah, jeng. Tiap saya minta Gusti Allah menjembatani doa saya, saya masih belum bisa menangkap apa-apa yg harus saya ambil pada akhirnya. Saya, Nora Veronica Kastella-lah yg berada di pihak dudul IQ-…

Dari Ampat-Limah-Anam

Baiklah readers cintaku. Pembaca "terbisu" ataupun tidak. Agak susah untuk menodongkan beberapa hutang postingan yg sebenarnya tidak saya hutangkan. Namun, karena memaksimalkan sedikit waktu dari beberapa jam ke depan sebelum kepergian saya (lagi yg gada capeknya) ke jogjakarata, maka saya jamak satu-satu (aku sayang Ibu). Indak usah protes. Yang protes ketemuan di Keraton Kidul dalem, kita main enggrang. Huh.... *panas kena kipas cpu.
Okei, Januari lalu, saya bersama keluarga besar yg gak besar-besar amat jumlahnya dapat kesempatan diundang seorang bapak untuk bersilaturahim ke Raja Ampat. Tepatnya di Pulau....nha lo, lupa nama pulaunya. Pokoknya salah satu resort di salah satu pulau di Kabupaten Raja Ampat. Karena banyaknya resort yg dikelola orang asing, kami memilih yg lokal saja, selain bayarannya rupiah, tempatnya gak terlalu jauh, juga murah (ini kata paling ditunggu).
Cumaaa, hitungan perkepala untuk satu kamar itu mahal boooo. Harusnya per kamar aja biar enak bayarny…