Langsung ke konten utama

"Hi, Kami The Adams...!!"

6,5 dari 10 adalah para lelaki yg menemani roda kehidupan saya (azaz kira² & kemungkinan). Dalam hidup, saya merasa banyak laki² daripada perempuan. Sahabat saya kebanyakan laki-laki. Pun pada saat bersekolah. Agak sedikit beda jumlah dengan para cecantik.

Dari kecil, teman sekompleks saya yg perempuan sepermainan tidak lebih dari 4. Selebihnya anak laki². Sahabat saya, dari pertengahan pertama sekolah sampai sejenjang Dian Sastro gini juga kebanyakan laki-laki. Ditambah jumlah teman abang yg sebejibun banyaknya itu prosentase kaum Adamnya lebih banyak. Klop sudah gumbulan saya yg serba gen YY itu. Eh, XY ato XX sih? Lupa. :D
Alhamdulillah, saya menikmati semuanya. Pun saat ada manusia yg bercinta-cinta monyet atau main tembak-tembakan, syukurlah banyak yg "mengejar" saya juga pria (sujud syahwi) ►► kalimat terakhir yg dapat memicu kontradiksi pada saudara Xapi. (Ah lupakan si komentator pedas itu).

Yg lucu, saya bisa merasakan efeknya sekarang. Well, mungkin kepekaan terhadap manusia berjakun tidak seleluasa dulu. Hanya saja sedikit banyak saya bisa membawa diri, insya Allah, pada suatu tempat yg terdapat sesatu-dua pria atau lebih. Dulu, jauh sebelum saya berproses puber. Bertemu dengan segala macam pria membuat saya bingung. Karena hanya terbiasa dengan Bapak & Abang, saya terkadang suka takut sendiri. Haha... Kala itu belum terlalu berteman dengan seorang pria pun.

Setelah puber, tingkah laku saya menyadur style para pria dengan seringnya tampil macho. Minyak rambut, celana skater, sandal sporty, jaket baseball, dan sedikit kumis (berharap bisa). Pun cara berjalan saya. Sampai Emak suka marah-marah karena saya tidak suka boneka atau bunga. Atau bapak yg suka membelikan saya kaos seadanya. Kontras, bukan? :))
Dan lebih parah saat saya sudah besar begini. Emak suka protes, "kamu tuh, temen² lakinya banyak, tapi gada yg nyantol satupun..." (dengan jingle Senam Jantung sehat di nada Cminor).

Jika emak membaca ini (Fyi, saya suka menodong emak baca karya emas anaknya di jurnal Saung. Biar beliau tahu, anaknya suka maksa?), percayalah mak. Kenormalan anak gadismu ini tidak usah di ragukan ke absahannya. Hijab bukan suatu cara menyembunyikan jakun. Itu tidak adil. (Mulai ngaco). *Nangis gelandotan di ban pesawat.



Salam Plintiran Kumis,
Renotxa.

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…