Langsung ke konten utama

Otograf Ningsih

Suatu sore berhujan jarang, di saung tengah desa Pangratman. Suara berdecak air sebiji jagung menabrak tanah dengan bau khas keraknya, alami alam. Para anak-anak desa berkumpul dengan sibuknya lakon. Menata masing-masing dari mereka alat seni beragam. Gamelan, selendang tari, dolan dakonan, kuas dan kanvas berhampur dengan jarak sempit membentuk koloni. Seperti bersiap tampil, namun tidak. Serta beberapa anak bawang yang menepi di tepi saung, menyiprat hujan dan tertawa. Waktu menggulung sore. Tak seperti biasanya sang guru tiba selama ini. Adalah Mbah Kardi, tetua kampung yg dengan tulus mengajarkan para anak-anak tentang seni. Pada 20 tahun lamanya bergelut pada seni duodrama, nampaknya beliau mampu mengasah alur seni yang lain. Peka telinganya pada musik jawa serta liukan gerak tarinya, membuat para ibu-bapak di kampung mempercayainya. Walau bayaran sekenanya, atau bahkan ucapan matur suwun yg sering terlontar. Mbah kardi tetap senang.

Langkah berat membelah genangan hujan terdengar sayup. Membuat semua tersadar, tergerak bahagia karena yg ditunggu akhirnya datang. Menurutku, derap langkah yg mungkin adalah Mbah Kardi layaknya paradigma fatamorgana. Jauh yg berkasat, dekat yg menjauhkan. Di rindu. Ya, itu mbah Kardi dengan senyum khas menyapa. Satu-satu dari kami saling mendekat dan menyalami santun. Bergerak dari satu koloni ke koloni yg lain. Mbah Kardi tekun mengajari kami yg saling beda nyeni. Aku sedari tadi diam, tidak beranjak untuk menggerakkan kuas yg tintanya sedari tadi sudah kering berkerak di ujung selipan. Hanya mengamati gelagat bising manusia di radius saung. Lalu sedikit-sedikit memupuk cipta. Hal yg tak biasa. Sungguh.

"Ndak ngelukis, Ningsih?" Tanya mbah kardi saat giliran ku di mulai dan mendapati kanvas ku masih putih panir. "Jenuh?" Tanyanya lagi. Aku menggeleng, tak berani menatap wajahnya. Bukan takut dia akan marah. Tapi tangis yg bisa meledak secepatnya. "Bosan dengan kaligrafi?" Kejarnya. Kali ini aku yg keder. "Mbah" suaraku kacau. "Lusa ningsih pindah. Sudah selesai kaligrafinya. Yg ini sengaja ndak Ningsih lukis di kanvas. Ini buat Mbah Kardi". Aku berikan bungkusan plastik hitam. Kami berdua diam. "Ningsih ingat, mbah pernah bilang. Mata mbah kardi yg sebelah kanan ndak bisa lihat. Sebentar lagi yg kiri juga. Kalo dua-duanya buta, mbah ndak bisa lihat kaligrafi ningsih. Sengaja ningsih pahat di kulit melon, kesukaan mbah. Ada nama Allah, Muhammad dan Bismillah. Mbah bisa raba, biar tahu kalo ini buatan ningsih untuk mbah." Mataku sudah berkaca. Serak parau suara tiap berbicara. Mbah kardi mengusap wajahku, menelusurinya lalu tersenyum. "Mbah ndak bakal lupa wajahmu, ningsih. Kowe sing ati-ati yo,nduk?!" Sedikit tersenyum padanya, memeluknya, menangis dan berlari memecah hujan yg makin deras, meninggalkan saung. Tak berani melihat kebelakang apalagi mengejar reaksi aura wajah tua mbah kardi. Takut kesedihan bisa membunuh ku pelan-pelan. "Kulo tindak, mbah...!" .




Untuk guruku yg beranjak tua,
Renotxa.

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…