Langsung ke konten utama

Kamera dan Nora

Kedekatan saya dengan fotografi itu, seperti jari dan alis-bulu mata. Well, kalo kalian memperhatikan, saya punya kebiasaan berkutat dengan dua hal tersebut. Kalo kata emak, itu ndak baik. Nanti banyak pria yang gak menaruh hati sama saya. Kalo kata bapak, itu kebiasaan aneh yg bapak turunkan. Balik ke fotografi tadi. Ini kebiasaan masalah hati. Syukur walhamdulillah ada minat dan kesempatan untuk bisa "dipinjamkan" alat-alat berlensa. Nha, jadi, biasanya, semua yg berlensa pasti alarm otak langsung bunyi seketika. Tularan dari abang saya, yg bakatnya dahsyat masalah foto-fotoan, saya jadi ketularan. Waktu itu, saya masih berusia...hmm...remaja (gak sebut angka). Dan saya belajar dari kamera selularnya. Lalu akhirnya, kamera poket, hadiah bapak buat adek saya juga saksi binal saya untuk memuaskan batin. Perasaan saya? beuh, senangnya ampun-ampun. Kemana-mana bawa kamera. Jepret sana jepret sini. Dulu saya belum kepikiran untuk menilik resensi apapun masalah fotografi. Beruntunglah. Karena ternyata saya belajar dari kesenangan. Dan betul saja, selalu ada rasa puas dengan hasil saya.

Lambat laun, saat saya secara mengejutkan di"lamar" menjadi reporter salah satu majalah di kota sini (sebut saja Zimbabwe), saya bilang IYA. Bapak yg cekatan lihat anaknya butuh bantuan, langsung usung mengusung menawarkan kamera sebagai alat bantu pekerjaan. Bapak itu, bener-bener fasilitator handal >:) . Menyenangkan jika sesuatu yg kau sukai bisa membawa pengaruh baik. Saya rasa, saat itu, saya cuma transfer hobi, bukan bekerja. :)) Tetap, saya tidak lupa "siapa" yg berpengaruh penting dalam hal ini. Suatu hari, saat saya harus mengcapture satu lembaga instansi yg notabene tempatnya tidak bisa di ambil gambarnya, secara diam-diam saya gunakan kamera jadul saya dan voila, itu dimuat juga.

Hasil karya saya juga tidak sebanyak orang pada umumnya. Dari sini, saya menata arah tujuan saya. Berharap bahwa hasil karya saya ini bermanfaat. Jadi, saya memutuskan untuk menjadikan hasil karya sebagai sebuah inspirator untuk semuanya. Kata teman saya, Mas Yun, seorang seniman foto, saat saya menggali ilmu fotografi darinya. Saya ditekankan pada "Seberapa besar niat dalam memaknai kelebihanmu.Belum bisa kau ukur kemampuanmu tanpa ada niat terlebih dahulu", ini tafsiran saya. Jadi, saat saya berusaha menambah beberapa fasilitas untuk penunjang, saya berhenti pada kata "mental". Dan kutipan tadi seperti angin segar di gurun sahara. Atau saat saya berusaha untuk memahami teknik foto yg baik. Memang ada ilmunya, namun keinginan untuk membuat semua jadi serba sempurna, Lifa dan Tante Mimi yang juga se(n)iman fotografi ini memberi jalan pikir yang berbeda. "Lakukan semaumu, karena setiap foto itu punya nilai yang berbeda dari mata tiap orang". Itu juga yg saya amini dan saya bagi tiap kali ada yg bertanya tentang bagaimana caranya jadi seorang juru jepret. Tiap foto itu, adalah baik, indah. Tergantung bagaimana caramu membaca "nya". Bukankah paragaraf ini menawan ya? *mendadak kerasukan jin.



Salam Jepret,

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…