Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

Mince kah..?!

Terkadang, polemik dalam khas kesukuan atau secara universal tentang keragaman identitas itu banyak yg berparadigma mengakar. Kebanyakan sih, tapi tidak semua orang. Saya, hmm...okei, keluarga saya adalah 5 dari berjuta-juta manusia yg kebagian situasi seperti itu. Okei, bagaimana memulainya? Sebentar. (Baca koran, Majalah Femina, bikin teh mawar dicampur ekstrak nanas honolulu, pakai rumbai hawaii). *Ambil napas dalam, sampai tembolok nyangkut di hidung...

Jadi, sebagian dari anda sudah menahui (istilah yg bs diazab kamus bahasa Indonesia) bahwa saya ini, salah satu dari keragaman hayati manusia. Bapak saya Papua tulen. Tampan, dan lugas. Emak saya seorang Njawanis. Fleksibel dan terpercaya. Lalu saya adalah campuran adonan keduanya. Tinggal di oven, bisa langsung di sajikan. Nha, untuk menunjang itu semua, nama saya yg semula direncanakan sebagai Gabriela Sabatini, karena emak saya penggemar kelas kakap mbah petenis ini, mendadak berubah jadi yg sekarang, Maria Angelino Parafifi Quan…

Hei Hoo, Ahad...

Jadi, tadi malam saya ngglundung ke Surabaya, inap-pani ke rumah ibu mamak saya, atau yg biasa kami sebut IBUK. Karena pagi ini banyak rantai kesibukan yg bakal dilalui. Dari jemput bapak (pria berkulit hitam, tinggi besar, hidung mancung, tampan, tetelan bergelambir, ngangeni, kecintaan) saya, manasik terakhir, sowan ke tetua yg baru saja kena musibah. Di tengah jalan saat memasuki kota pahlawan.... Banyak seliweran gerombolan orang² bentuk formasi berjalan. Entah itu apa, malam itu berasa ospek karang taruna atau siskamling. Tapi baru nyadar kalo itu salah satu persiapan lomba gerak jalan rute puanjaaaang (lebih dari 1 kaki) untuk peringati milad surabaya. Fyi, saya ini "menetas" dr rahim emak di surabaya. Tapi saya gak pernah ngerayain apa-apa tiap ulang tahun rumah asal. Paling gak, nangkap ikan suro atau mancing buaya di sumur. Terus ke bakery beli tart bentuk tugu pahlawan. Durhaka kesannya.

Sampai di rumak Ibuk, saya belum bisa memadu kasih sama kasur. Ini karena tuga…

Emak lan pilihane niku

Saya itu sedang dalam perjodohan visual emak saya. Harapannya pada pria baik itu sangat besar. Saya cuma geleng-geleng, mau dibawa kemana otoritas hati saya. Hahaha... Saya menganggapnya hal kecil karena emak pasti punya kekhawatiran sendiri tentang pilihan anak perempuan kecilnya ini pada seorang pria yg belum nongol menjungul. Awalnya sih kami bertemu pada suatu perjalanan panjang. Lha, kebetulan kami bertiga sering berinteraksi. Asyik masyuk pembicaraan basa basi layaknya perkenalan biasa. Lha, sejak tidak bertemu lagi, tentu dalam hitungan tahun yg lama. Emak suka korek-korek toel-toel saya untuk mau menerima pria baik hati itu. Ealah dalah, salah apa saya ini kl jadi korban jodohan begini? Tetep, saya mengutamakan logika saya untuk, ya untuk punya munajat sendiri.
Nha, beberapa minggu lalu. Emak yg punya urusan penting dalam suatu komunitas datang dengan suka mencita. Setelah saya antar, saya lanjut perjalanan khidmat saya yg lain. Gak berapa lama.
Deringan Aku ini punya siapa sayu…

Pedal gas...Pool

"Apa ini, Gustiii...." >> sesaat di ruang tunggu. Pisahan sama emak yg juga tandang ke Papua. Weleh... Makin tua aja nh orang-orang di jalan. (Intermezo)

Tadi, waktu berangkat, diantar papa(papa tua) ke bandara. Di jalan, rata-rata kecepatan 100 km/jam. Widih... Ngeri. Belum lagi cara salip nyelip ala ojek. Berpikir (mumpung ada otak). Terus sadar. Aku ayu yo? Nyahaaa.... Well, meruntun pelan-pelan. Di keluarga besar kami, semua pria memang yg keduluan ahli menyetir. Termasuk saya ah. Nha, karena saya mengiblatkan ilmu dari mereka, mau gak mau saya pelan ikuti gaya mereka. Untuk ukuran jalur padat dengan kecepatan 80 km/jam saja, saya yg jadi penumpang sudah panas dingin. Apalagi 100 tadi. Argha...mau pingsan di pelukan Dude (secara resmi, Ridho tidak saya sematkan di saung. Maaf Do, kamu bukan untukku).

Berarti kalo diruntun, berapa ratus juta penumpang yg saya khawatirkan saat di jalan? Kasian. Tapi gitu yo gak kapok nunut mulu ya? Gada pilihan lain kayaknya. Ah iya, b…

Kinanti di kampung aja...

Entahlah, readers. Kalau bukan karena keperluan mendesak, saya agak ogah-ogah ke Ibu kota. Memang hal yg biasa. Buta peta, matcet, banjjir, hetdon jadi biang-biangnya. Ini aja, besok pagi saya sudah mengkantongi tiket ke batavia. Tapi...Kenapa masih berat y? Toh cuma bebera puluh jam aja disana. Huaaa... Kalo bukan Tami, lingkar pena, Dude Herlino, Ibu kota bukan tujuan paling utama di list tujuan hidup saya. Please Rabb, tempatkan saya di tempat yg kalem-kalem aja. Boleh milih kan? Swiss atau Turki bisa gak, Rabb? atau di pulau Jeju, tetanggaan sama BoA.

Tapi gak jadi deh, Robbi. Di Malang aja. Nungguin emak bapak sampai nunggu hari tua. Berbakti biar kalo dibutuhin, cepet nongol. Begitu aja, Tuhan. Terima Kasih, cinta sayangku Robbi.


*kecup dari bumi.

Kamera dan Nora

Kedekatan saya dengan fotografi itu, seperti jari dan alis-bulu mata. Well, kalo kalian memperhatikan, saya punya kebiasaan berkutat dengan dua hal tersebut. Kalo kata emak, itu ndak baik. Nanti banyak pria yang gak menaruh hati sama saya. Kalo kata bapak, itu kebiasaan aneh yg bapak turunkan. Balik ke fotografi tadi. Ini kebiasaan masalah hati. Syukur walhamdulillah ada minat dan kesempatan untuk bisa "dipinjamkan" alat-alat berlensa. Nha, jadi, biasanya, semua yg berlensa pasti alarm otak langsung bunyi seketika. Tularan dari abang saya, yg bakatnya dahsyat masalah foto-fotoan, saya jadi ketularan. Waktu itu, saya masih berusia...hmm...remaja (gak sebut angka). Dan saya belajar dari kamera selularnya. Lalu akhirnya, kamera poket, hadiah bapak buat adek saya juga saksi binal saya untuk memuaskan batin. Perasaan saya? beuh, senangnya ampun-ampun. Kemana-mana bawa kamera. Jepret sana jepret sini. Dulu saya belum kepikiran untuk menilik resensi apapun masalah fotografi. Berunt…

Gegerak mu lalui

Aku duduk di kursi depan pada suatu bis. Memutar-mutar kamera poket. Membuka dan menutup lensanya. Tak ada yg spesial. Hanya sedang mempersiapkan apa-apa yg akan di "tangkap" saat turun nanti.

Lalu saat sampai, ternyata tujuan kali ini adalah tumpukan batu tua julangan tinggi, gagah, terdaki. "Mari bermain kamera", ajak ku. Mereka yg lalu lalang, pujian yg membahana, kerak sejarah. Ouw, menyepat ide pada mata lensa. Cekrik cekrik. Ambil semauku.

Ku buka lagi, untuk mengingat memori. Hitungan tahun itu tidak sedikit, madam. Cukup dirindui, dan... Aku berhenti pada gambar di tengah anak tangga menjulang memipih. Ada yg menarik. Ku fokuskan lagi, lebih detail, sebagai pemerhati. Cukup dibuat melengkung rapi bibir ini. Diluar sangkaan, aku masih melipir dari garis normal perasaan nadi. Walau hanya menatap pada punggungmu saja, wahai si fulan....


Lalu,bagaimana kabarmu kini?!

Aduk Ciduk lalu

Tiba-tiba saya teringat tentang beberapa bulan yg lalu. Dimana tanpa pikir panjang saya menulis tentang kesedihan luar biasa. Itu postingan "terburuk" saya sepanjang penulisan.

Saya masih ingat bagaimana saya membuat imajinasi tentang keadaan yg membuat saya mengundang para teteman untuk berusaha menghibur saya. Mengarsitekturkan setiap sisi, konser mini, hingga detail kudapan. Itu konyol, kala itu. Biarlah. Toh itu cuma khayalan. Tapi tahukah, saya baru sadar bahwa sebagian dari "simulasi angan" itu benar² di wujudkan Rabb dalam bentuk nyata. :) Saya mencoba masuk ke perasaan dan pola pikir saya saat itu. Kembali membaca isi curahan itu. Air terjun mini dan kolam koi, hingga sofa merah. Bukan begitu?! Saya tidak tahu, hingga Rabb memberi saya kejutan tak terhingga. Tiap saya akan tidur, suara gemericik air itu...nyata. Ikan koi itu, benar² ada. Sofa merah itu bahkan ada di dalam kamar saya. Subhanallah. Lalu apa lagi yg harus saya ingkari nikmatnya?

Dan tahukah?! …