Langsung ke konten utama

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?

Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak untuk manfaatin situasi". Rupanya, kedekatannya dengan beberapa teman yg sedikit terlihat dari status sosial bukan hal yg baru di khalayak. Itulah mengapa dia selalu menolak ajakan teman-temannya untuk pergi lantaran menghindari obrolan miring tentangnya. Dia mengherankan tentang perkataan orang yg menganggap label kebahagiaan bisa dikaitkan dengan sesuatu yg kita sebut Uang.

Saya tak menampik hal itu, saya rasa itu adalah kebutuhan yg pasti dicari oleh manusia. Namun yang ditanyakan, apakah kita cukup bahagia? Kurang atau lebih? Sama sekali tidak jadi panutan bahagia atau tidaknya seseorang. Saya mendapatkan banyak renungan tentang dua hal ini. Senang dan Tenang. Berbeda walaupun dengan konteks yg baik. Tapi sangat jauh aplikasinya. Banyak diantara mereka, yang merasa berlebih dalam materi...dan mereka senang. Ya, senang. Bisa meraih ini itu dengan jentikan tangan. Tapi mungkin tidak untuk mencapai titik tenang. Dimana dia khawatir dengan apa yg dia punya. Paling tidak, tidak tenang saat ada beberapa yg jauh dari diharapkan. Ya, jauh kelihatannya. Perasaan keduanya tidak bisa disatukan dalam waktu yg bersamaan. Bahagia dalam konteks masing-masing memang tidak bisa dikategorikan salah atau benar. Seperti yg tetangga saya alami. Rasa syukurnya bisa membuat senang dan tenang bisa berkumpul jadi satu. Perasaan itu yg tidak membawanya untuk tidak menuntut macam-macam, paling tidak, rasa kecukupannya tidak menjebaknya untuk mengorbankan harga dirinya. Dan dia merasa sangat bahagia tanpa harus memilih. Jauh atau dekat, hasilnya juga tetap sama kan?

Memilih pada akhirnya akan kalah dari Selektif. Mengapa? Saya punya cara mengartikan dua kata ini dengan perbedaan yg nyata. Memilih mungkin akan dengan mudah mendiskualifikasi yang lain dengan telak. Namun selektif punya nilai sendiri tanpa harus "membuang" yang lain. Dan hal itu, tidak berdasarkan dari apa yg mendapatimu, tapi dari apa yg kamu dapati.....


Jadi, apa kamu sudah merasa bahagia?


Regards,

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…