Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Mei, 2010

Dearest,Cintaku

Kalau aku berbicara tentang Mu. Dalam usia ku yang dulu, aku sering marah pada Mu. Angkuh, bahkan rasa setengah hati pernah aku lalui untuk menilai Mu. Rumah Mu, bukan rumah ku. Pernah terpikir oleh ku Engkau sibuk dengan manusia yang menyapa Mu dari pada aku yang suka membangkang atas ketidakadilan Mu, saat itu. Hingga akhirnya aku menyalahkan Mu karena derita lama Ibu ku. "Engkau dimana?", tanya ku. Aku lebih sering berdiam untuk menunggu Mu. Sengaja aku lakukan di saat malam, itu cara ku untuk bertemu dengan Mu, menghabiskan waktu, dan Kau tak pernah datang. Surga dan neraka seakan hanya jadi legenda, cerita yang tidak akan terjadi, karena aku sudah hampir menghapus Mu dari pikiran dan hatiku.
"Engkau dimana saat keluargaku berjuang menata serpihan hidup?", "Tak bisakah Engkau membuat hidup kami dengan jalan yang lurus?", "Atau setidaknya, jangan uji kami dengan orang-orang bertopeng diluar sana?", tanya ku. Aku menuntut hak ku atas pekerjaan …

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…