Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Maret, 2010

Menganga

Sontaknya mata
"Rasa capai dan lelah sudah berhasil memakan energi satu demi satu. Senja sudah tidur, bulan masih mengintip dari pekatnya awan. Melewati kota ...tunggu dulu, di salah satu kota di Jawa Barat. Daerah yang sepi hanya terlihat jalan dan rumah makan. Tak lupa, berderet rumah bertuliskan kata-kata cantik. Nama rupanya. Para perempuan duduk manis di bangku di depan di tiap rumah. Memakai baju ala kadarnya, melawan dinginnya malam, menahan kakunya badan karena tak cukup kain untuk menutup sebagian besar tubuhnya. Ada yang terduduk merenung, ada pula yang berjoget ria. Entah untuk apa senyum manisnya mengembang di tiap orang yang ada di dalam kendaraan yang lalu lalang di jalan utama. Semula biasa saja, namun akhirnya, sadar akan hal itu, rasa sedihlah yang sekarang dirasa.

Hei Perempuan....Mengapa?"

Renotxa, 27 Februari 2010, Catatan Bis #3
Tulisan diatas saduran dari catatan kecil saya saat melakukan wisata hati bulan lalu. Menyenangkan, banyak juga cerita aneh pola …

Terkadang di Bandara

Tadi... iya tadi, saya dengan rajin bangun pagi, cuci becak, terus mandi (iya mandi, jangan kaget). Alarm saya kalah cepat dengan telepon bapak disana. "Bapak boarding ya, jemput 1 jam lagi". Wooot?? Masih asik pingin leyah-leyah (nyantai,dude). Akhirnya mangkat juga melalui proses tadi di kalimat pertama. Hareeee, pagi ini indah rupanya. Ada picang goyeng, ada goyeng dombret. Sambil cuci becak diluar, dilihat banyak khalayak. Mulai dari anak SD, SMP, SMA (kok anak-anak semua tho?), ada juga ibu-ibu jual sayur gendong, bapak yang pake celana >>> haiyah gak penting. Pergilah bersuka cita ke bandara terdekat. Jarak rumah saya cuma 15 menit omplong duang. Itu berarti saya tadi memolorkan waktu 40 menit dari 1 jam perjalanan bapak pake burung besi.
Sampai di bandara yang masih dibawa kendali Lanud, semua petugas diwajibkan cek ricek semua kendaraan yang masuk, baik yang beroda ato tidak (para penjamu gendong?). Ada 2 spot penjagaan ketat. Saya yang pede sendiri seperti b…

Mbak-mbak gila pria

Kemarin saat saya diruang ganti, yang akan melakukan rutinitas nyemplung kolam. Saya mencuri-curi, eh... gak mencuri. Gimana gak kedengaran, si mbak-mbak yang bersebelahan yang lagi mandi kenceng banget suaranya. Uda kayak orang sekampung kalo ngomong. Mereka gak tahu, kalo saya dengar semua perbincangan ibu-ibu kaum-borjuis-mulai-lebay-deh-karena-mereka-kira-kamar-ganti-lagi-sepi. Yang satu terdengar sedang keramas, yang satu kebingungan bunyi hapenya yang dari tadi uda nangis aja. Saya, sambil ganti baju renang juga (harusnya baju selam, tapi karena belum dapat info dr Kacrut melulu, saya ikhlas pake baju balet. Suuucks.... Pingin saya cium tuh anak). Sambil pemanasan, lari-lari kecil, saya masih dengar penyiar "radio" ini.
Mince (bukan nama sebenarnya) as Perempuan pertama. Yance (jelas bukan nama dia) as Perempuan kedua.
M : "Eh, mince, ni ada nih. Ada cowok yang mau kenalan ma kamu." Y : "Siapa? Yang di facebook mu, bukan?" M : "Iya, si Ferry itu. G…

Saving childrens....children's children.

Saya baru dapat kiriman dari sahabat saya di Ngayogyakarta. The Wisdom of Women, cerita tentang perempuan-perempuan yang berjuang demi keluarga dan keyakinannya. Ouwlala... Favorit saya pokoknya. Satu yang jadi renungan saya (kebetulan sama tujuannya dengan renungan saya beberapa bulan lalu saat di kamar mandi). Seorang ibu, Yahya Komariah, yg terhimpit ekonomi keluarganya, seorang mantan pekerja pendidikan, dan mendirikan Homeschooling di ruang lingkungan rumahnya. Yang menarik, dengan bekal keguruan yg diembannya selama 8 tahun, dia mati-matian melegalkan Homeschooling nya. Mulai dari ke Diknas untuk pengakuan rapot, ke Edu-World, British Council (sebagai tempa beasiswa, dan alhamdulilah, diterima), dan tempat lain sebagai fokus usahanya. Komunitas Homeschooling yang di beri nama Berkemas (Berbasis Keluarga dan Masyarakat), cukup mengartikan bahwa pencarian ilmu itu bisa di dapat dimana saja, keformalan tidak hanya dibatasi dengan tempat dan keseragaman pakaian. Tidak hanya guru sa…