Langsung ke konten utama

Mbak Bank, aluw....

Kemarin niatan mau nabung. Yeah..nabung (kegiatan 2-3 kali, ato sekali mungkin). Beranjak dari rumah setelah mandi (ini kegiatan langka di pagi hari). Sudah disiapkan segala keperluan buat di Bank 45 nanti. Kayak, duit, buku tabungan (bukan buku harian), majalah RDI, dompet beserta KTP sama NPWP. Eeeh...kok ya lupa pake baju (tolol). Yawes... berangkat. Tu wa ga pat. Berangkat dengan suka cita, menikmati keindahan kota dengan hembusan asap kendaraan, dan kicauan knalpot yg merdu. Berhenti di perempatan lampu merah, menyaksikan para penyanyi dan pekerja seni jalanan yang sibuk "silaturahmi" dari satu kendaraan ke kendaraan lain (ingat, semua beroda, bukan berkaki). Masih lekat di pikiran, apa yg dilakukan kelar dari menabung. Oh ho... kita cari makanan kucing. Terus.... mandiin kucing di salon. Hmm... Sebisa mungkin pulang ke rumah. Membuang emisi sembarangan tanpa tujuan adalah dosa. Itu namanya mendzolimi bumi, ciptaan Nya (backsound : Earth Song by MJ).

Skip sampai waktu saat di Bank.

Saya suka ada di Bank ini. Pelayanannya, cepat, ramah, bersahabat, bersahaja, murah senyum, banyak duit (saya baru tahu kalu di Bank banyak duit, bukan koruptor. Hahaha...) . Saya gak tahu kondisi bank lain. Katanya sih, Pelayanannya, cepat, ramah, bersahabat, bersahaja, murah senyum, banyak duit (breaking news : pengulangan kata dapat membuat pembaca memblock jurnal anda)..... sama aja dum yah? Disapa oleh petugas penjaga keamanan dengan sebutan nona manis, diambilkan nomor urut, lalu mengisi form yg diperlukan. Saya bingung (err...ato emang tulalit), saya tak bisa menemukan form pendaftaran S2 ato form photography. Akhirnya saya ambil kertas berjudul setoran tunai (bukan setoran ojek). Form berwarna biru keijoan (toska ya namanya?). Saya isi sesuai identitas asli. Nama : Angelina Veronica Jolai Karbaba(maneh). Alamat : LDE Yearns street, Portsmouth, England. Telepong : 14042 (gak ding..gada nomor telpon ya, hahok). Menunggu antrian, mengisi kengangguran ala kadarnya.

1 menit berlalu... Sumringah, ikut senang, mbak-mbak teller ramah semua.
2 menit berjalan... Liat nomor urutan, tinggal dikit lagi.
5 menit merambat... Tutup mulut, capek dari tadi senyum-senyum sendiri.
10 menit ngesot... Hitung uang yg mau ditabung nanti.
15 menit tetep jalan... (kikir kuku).
20 menit berlari... (astagfirullah).
63 menit jauh ngayalnya... Sudah keluar bank.

Yah, gak lama saya dipanggil. Eng ing eng. Okei, beibeh. Ni duit tadi malam (ngelempar duit ke mbak-mbak teller). Ukhti macam apa itu? Copot saja jilbabmu, pakai noken* aja. "Selamat pagi, bu..?!". (Senyum kecut mengembang, mata sinis jelalatan) Gak terima disebut ibu-ibu walau tinggi badan senormal model papan giling. "Aa..setor tunai ya, mbak.", kasih form beserta 10 lembar duit 1000 IDR buat di tabung. Alhamdulillah... batin ini tak kuasa mengucap. Cukuplah kalu diikutkan arisan berkedok mlm ala bank itu. Lanjut dengan cekatan ala ninja baubacin, mbak teller itu mengutak atik keyboard komputer, dilanjut utak atik tuts hape lalu ikutan registrasi ramalan mama Lorek. Beberapa waktu kemudian, "Saya print sekalian ya, buku tabungannya", katanya. "Eh, iya monggo, jeng". Berdiri di meja teller dengan muka standar. 5 Menit yang panjang (waktu yang lama untuk melayani costumer). Sesekali mbak itu menengadahkan wajahnya sambil tersenyum, "Maaf ya bu, lama. Sering ambil duit yah?". Muka tambah panas, geram-marah-malu(lebih banyak) bukan kepalang. Senyum kecut menjawab ultimatum pemborosan mbak teller-keji-tega-gak berperasaan. Kalu harus saya lakukan hal ini, Berdiri di meja teller mbak itu, bersila, ndodok, ambil mic, terus bilang, "Liat dum, mbaaaaaak. Saya biasanya ambil cuma pas kepepet. Saya gak suka beli ini itu kalu bukan beli makanan kucing. Mbak tau gak? saya tersinggung mbak bilang cantik, menawan, menarik...." dan perihal kebudekan serta keautisan yang sedapat mungkin bisa saya lakukan untuk menutupi rasa malu saya tadi. But i didn't. Itu aja....

Beberes dari bank Toyib, pulang kerumah dan berniat mandi suci. Melakukan ikhtiar agar hal tadi tak terulang lagi. Yaaa, paling tidak untuk 5 bulan kedepan. Ayoo...Menabung buat masa depan. Kamu, suamiku, ayo nabung, jangan boros.... *nunjuk poster Justin, Bae Yong Jun, Will Smith (gak tega jd Istri ke2).


*noken : Tas tradisional wanita Papua yg di taruh di kepala. Biasanya di pakai buat gendong Babi ato ternak "sembahannya". uwouwo....humbala.




Salam Rupiah,

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…