Langsung ke konten utama

Getting better since I met you, doctor.

Dua minggu ini saya sakit parah (padahal kata nyokap saya sudah “sakit” sejak lahir). Dua minggu itu pula saya berpikir bahwa hidup saya tinggal sebentar saja (it means sekitar 60 tahun lagi, Amin ya Rabb). Kronologisnya, saya mulai pusing di pelipis mata kiri. Peningnya bukan di otak atau dalam kepala, tapi benar-benar sakit di luar etika persakitkepalaan. Ironi memang. Saya saja bingung bagaimana menjelaskan chemistry antara aku dan dia (menjabarkan kisah cinta manusia dan perihal sakit pelipis mata, gak eliiit blas). Dan yang paling aneh, pusing itu datang seperti spg yg dapat bagian shift pagi. Yeah, datangnya antara jam 9 pagi- 12 siang. Sepertinya saya kenan santet, pelet, melet. Aneh kan? Iya aneh, saya lebih aneh karena nangis-nangis sendiri gak jelas, meringkuk di sudut kamat sambil pegang boneka spiderman. Aarrgh… mengingat lagi kayak seperti ini saja sudah ngeri. Gak mau sakit lagi. Saking sakitnya, pelipis saya membengkak seperti habis tawuran sama anak TK Bakti Pertiwi (ada emang nama itu?).

Dan beberapa hari lalu, saat nyokap lagi diluar kota, niat saya pun bulat elips untuk pergi ke dokter. Iya dokter mata. Awalnya saya berpikir bahwa mata saya adalah faktornya. Dan saya kudu latihan di depan kaca ala wanita karir yg pake kacamata, “Selamat Pagi, saya Nora, bagian keamanan” (sambil naikin kacamata, sok suci). Terus minta pendapat nyokap, “Mak, kalu pake kacamata gimana? Cocok gak ya?”, nyokap Cuma jawab nyantai, “Tuh satenya di habisin dulu”. Oalah mak. Akhirnya, dengan segala macam negosiasi, rujukannya adalah ke Dokter umum. Berada 1 km dari rumah, keberadaan dokter rekomendasi paman saya yg katanya masih muda. Katanya sih, karena gak perlu antri panjang (ini dia yg bikin dag dig dug ser, “gak banyak antri” menurut masyarakat Indonesia adalah sesuatu yg mengalami ketidaklakuan, diragukan). Dan setelah tanya bagian informasi, saya ambil nomor antrian 1. Yes, selama hidup gak pernah dapat antrian pertama. Rekor terpecahkan. Karena waktu praktek juga lama, saya beserta rombongan Ibu-ibu pengajian keluarga siaga, pulang dulu. Sampai akhirnya balik lagi sambil bayangin gimana bikin gaya juara “antrian nom 1” akan di pamerin.

Sampai di tempat praktek dokter, semua rekor pun perlahan gugur, selempangan juara juga kayaknya compang camping di gunting setan, medali emas juga berubah jadi kayu rapuh. Antrian saya di duluin. Artinya, percuma banget bawa antrian, dibangga-banggain, di foto berbagai gaya dengan aksesoris kartu antrian 1. Argh… Parah. Tapi ya sudah lah. Toh akhirnya masuk juga.
Nunggu.
Kriik…
Kriik…
(hampir 30 menit nunggu pasien).

Voila, saya masuk juga. Akhirnya saya berhadapan dengan dokter muda dan tampan yang kayaknya sudah jadi suami orang. Pertanyaan di lontarkan, banyak sekali. Dari sakit tenggorokan, migrain, vertigo, pola makan, sampai nomor sepatu (forget it, manipulasi). Lalu pemeriksaan. Ouw my, saya pikir pemeriksaan detak jantung biasa dan tekanan darah. Itu lah alasan saya untuk memakai rok pada hari itu. Salah. Dia periksa bagian bagian lain. Hmm… bagian perut, yg bisa mungkin melihat rangkepan saya. Haiyah, dia lihat piyama hijau ngejreeng saya, sodara. Aseeeem.. Ngerti gitu saya pake terusan polkadot motif hati. Gila aja diluar keliatan rapi, eee… pas diperiksa, baju tidur masih nempel. Dasar bau. Hrrr… salah nopo tho aku iki, Gusti? Ya ampun dokter, malu juga saya lihat muka dokter cekikikan gak jelas nertawain saya. “Ciih, kalu besok lu periksa lagi, pasti gw bakal nutup praktekan. Gak sudi ma piyama ijo lu” >> skenario Nora tentang pikiran dokter setelah insiden piyama ijo royo-royo.

Dan sekarang, semakin baik saja kondisi saya (mungkin setelah ketemu dokter). Oia, saya belum bilang juga kalu dokter belum tau apa penyakit aneh saya. Tapi tahap observasi 3 hari akan dilihat hasilnya senin ini. Hmm… saya harap cuma kena panu ijo biasa.




Salam obat bius,

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…