Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2009

Di mataku...

Pending cerita kekeluargaan dipostingan depan. Sekarang fokus dengan mata. Mata jelalatan lihat buku, kompi, laki-laki berpeci, dan..futomaki (baca : sushi, saduran lemper dari Indonesia). Belum sembuh dari trauma dokter tampan, nyokap maksa saya masuk klinik mata (dokter lain boleh, asal jangan dokter mata). Okei, mak, barter futomaki (emak manggut).  Masuk ke resepsionis yang berasa kayak hotel yg kudu check-in terus pilih kamar dokter, lihat tarif 1 malam seharga 100 bungkusan gado-gado. Buseet... Lanjut, medical check. Ngeri juga lihat alat-alat buat cek mata. Belum pernah nyambangi tempat beginian, walhasil geli-geli piye. Ronsen mata-"latihan baca"-selesai. Woot..? yeah, ternyata gak sampai makan waktu 10 hari, alhamdulillah. Tunggu giliran masuk ke ruang dokter. 

10 menit, wuuuz...suwi suwi.
15 menit, pingin kabur.
20 menit, pingin buka sendal (??).
25 menit, liatin orang banyak yg pake kacamata (mama ee, takut).
Dokter buka pintu panggil nama, 1 menit kemudian uda duduk m…

Musik di Telinga

Saya sedang dalam mood yg baik. Tidak dalam pertengkaran batin, perebutan harta gono-gini, dan hal kecil lain yg memungkinkan memecah belah pertemanan. Oh, no.. saya bukan salah satunya. Setidaknya saya jadi orang "normal" dari beberapa hari setelah bangun dari pesakitan kemarin. Jangan tanya bagaimana cover dokter cucok yg saya ceritakan. Hahaha... tak pantas ukhti seperti saya bisa sebegitu hebohnya melihat ikhwan mapan kayak gitu. Kata emak, ndak pareng(baik). Saya dalam keadaan paling labil sepanjang tahun ini. Dan keberadaan saya ini tak lepas dari sentuhan MUSIK. Mellow? ah..ndak juga. Apapun genre musiknya(well ridho, dangdut juga musik kan? puas loe?), serumit apapun liriknya, seamatir apa produsernya. Musik hidup di dalam tubuh saya (jangan berpikiran saya selalu bawa iPod dari bangun sampai tidur lagi). Mungkin nyokap suka dengerin lagu Balon ku ada lima, Burung kakak tua, ato Geef mij maar Nasi Goreng waktu saya masih di perutnya. Saya bukan orang yg gila karaoke…

Getting better since I met you, doctor.

Dua minggu ini saya sakit parah (padahal kata nyokap saya sudah “sakit” sejak lahir). Dua minggu itu pula saya berpikir bahwa hidup saya tinggal sebentar saja (it means sekitar 60 tahun lagi, Amin ya Rabb). Kronologisnya, saya mulai pusing di pelipis mata kiri. Peningnya bukan di otak atau dalam kepala, tapi benar-benar sakit di luar etika persakitkepalaan. Ironi memang. Saya saja bingung bagaimana menjelaskan chemistry antara aku dan dia (menjabarkan kisah cinta manusia dan perihal sakit pelipis mata, gak eliiit blas). Dan yang paling aneh, pusing itu datang seperti spg yg dapat bagian shift pagi. Yeah, datangnya antara jam 9 pagi- 12 siang. Sepertinya saya kenan santet, pelet, melet. Aneh kan? Iya aneh, saya lebih aneh karena nangis-nangis sendiri gak jelas, meringkuk di sudut kamat sambil pegang boneka spiderman. Aarrgh… mengingat lagi kayak seperti ini saja sudah ngeri. Gak mau sakit lagi. Saking sakitnya, pelipis saya membengkak seperti habis tawuran sama anak TK Bakti Pertiwi (a…