Langsung ke konten utama

Bring your own home here


Gada yg gak tau film animasi ini (kalu belum, cari dvd bajakannya). Saya mah, sudah jatuh cinta dari pertama kali nonton beberapa bulan yg lalu. Sampai rela beli dvd bajakannya saking senangnya (ini belum termasuk merchandise balon ma rumah kayu aslinya). Beberapa kali nonton juga gak kerasa bosan, setidaknya gak di tonton dari pagi sampai pagi lagi. Salut deh yg punya ide imajinatif kayak gini (yang pasti bukan kamu lagi, ridho, bosen jg ketik namamu di hampir tiap postingan). Kedekatan saya dengan film ini bukan hanya perasaan suka saja, tapi karena kemiripan karakter Mr.Carl Fredicksen yang sepertinya saya paham betul keberadaannya. Pasti semua pada tau kan, kalo cerita Opa Fredicksen punya cita-cita dengan almarhumah istrinya Ellie, untuk bisa berpetualang ke salah satu air terjun di Amerika Selatan. Berharap bahwa mimpi itu akan terwujud, namun terhalang karena sang istri sudah dulu pergi ke surga. Lalu dengan cerita yg sedikit panjang, mengantarkannya untuk melaksanakan ide gila yg serta merta membawa rumah kayunya (yg berada di tengah kota dan dikelilingi bangunan tinggi) dengan balon ke tempat tersebut. Ngayal kan? hehehe... Saya tidak akan bercerita ato mereview ceritanya, karena saya lebih suka fokus pada Opa Fredicksen itu sendiri.


Saya membayangkan cerita tersebut sebenanrnya tidak harus dialami oleh siapa-siapa.
Tapi, pasti ada. Satu ato lebih di dunia ini yg punya kesamaan cerita dengan nya. Seperti Mr.Kooiman, kerabat saya, seorang pria tua yg tinggal di kota Someren, Belanda. Dia, sebenarnya teman dari sahabat saya saat masih bekerja di Lombok. Namun sudah dianggap seperti Kakeknya sendiri. Semua berita tentang sahabat saya, sudah pasti di ketahuinya. Opa, panggilannya. Walo belum pernah bertatap muka, cerita tentang saya sudah sering dia dengar (berasa artis cilik yg digemesin ibu-ibu pkk). Bahkan wajah saya, dari belum berjilbab pun sudah pernah dilihatnya. Umurnya sudah sangat tua, 78 tahun. Tapi semangatnya, masih seperti mahasiswa yg baru lulus kuliah. Muda boo.. Berpostur tinggi besar, tampan, berkulit putih, sederhana. Dia seorang duda yg ditinggal oleh istrinya ke sisi Tuhannya. All by myself, on my own way to take care of me. Begitu kira-kira keadaanya. Sendiri, tanpa ada keturunan yang menjaganya di hari yg sudah senja. Istrinya meninggal karena kanker yg dideritanya cukup lama. Hidup sendiri, menikmati masa pensiun dengan berkeliling dunia. Aaah... persis seperti gambaran Opa Fredicksen di film UP. Saya sering berkomunikasi dengannya, berkirim surat (mengingat beliau tidak suka menggunakan email), menelepon, ato kadang berkirim postcard. Tahun lalu saja, saat sahabat saya di wisuda, dia menyempatkan diri datang untuk menghadiri perayaan kelulusan sahabat saya. Walau hanya 2 hari saja di Indonesia.
"For Selvi...", katanya. Yaa, walo dengan bahasa inggris yg terbata. Tapi anehnya saya selalu mengerti apa yg dia sampaikannya. Ato terlalu gengsi kalo gak bisa bahasa Belanda. Guten morgen... guten punten, monggo pinarak rumiyen. Dia, selalu menunjukkan foto istrinya yg ada di dompetnya, "Look, my wife is watching me... Hei you, pretty, why you peeping at me?", cerita sahabat saya.

Miris saya dengar ceritanya. Di hari tuanya, gak ada keluarga, anak, cucu. Paling gak, surat dan oleh-oleh saya bisa jadi obat buat sendiri sepinya. Saya terharu saat tahu bahwa di ruang bacanya, selalu ada foto kami, surat-surat tahun lalu lalu juga oleh-oleh khas Indonesia kiriman kami. Tambah sedih kalu terus diingat. Itu lah kenapa saya ingin sekali menyambanginya lain waktu (baca : kalu ada duit segunung). Mudah saja buatnya untuk pergi ke Indonesia, tapi dengan kondisi tuanya, kasian saya. Anyhow, semangat nya untuk hidup benar-benar inspirasi tersendiri buat saya. Semoga, apa yang jadi keinginannya kelak, bisa mempertemukannya dengan belahan jiwanya di sana.



"Hello, darling..!!" (on the phone, when he called me once) >> something that i miss him so. we love you, Mr. Kooiman.


Tot Ziens,

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…