Langsung ke konten utama

Ricuhnya otak tukang jepret

Uwawuwa.....(gerakin bibir naik turun, monyong-monyongin) >> pemanasan. Seringnya sibuk membuat saung ini sepi omplong. Saya berencana akan merombak saung rumah saya yang akan saya konsep seperti tempat favorit di rumah. Hmm... dari ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, sampai kandang kucing. Hmm... Kayak bikin rumah emang. Tapi lebih tepatnya ini kayak blog yang di tema-tema-kan oleh ruangan. Yang ada dalam dengkul saya (lupakan otak, saya agak stres hari ini), warna-warna pastel bisa bikin suasana jadi ringan. Tapi saya sangat suka biru. Terkadang saya ingin semua biru-kebiru-biru membaur disini. Dari baby blue sampai dark blue, dari biru langit sampai biru laut. Atau aksesoris gambar kucing saya yang jadi temanya. Hmm... (mikir pake dengkul). Besides, saya agak menjurus ke cerita bergambar. Memajang foto saya dengan sedikit caption. NAMUN.... terkadang gambar menghasilkan berbagai macam cerita. Ketakutan saya akan berbagai konotasi akan merebak. Dan kesalahan yang fatal dilakukan adalah, pendapat negatif tentang foto itu sendiri. Alasan lain, saya takut foto saya dicuri tetangga sebelah buat dijadikan paten. Argh, cukup sudah alibi jelek saya. Dengkul sudah bernanah, gak tahan gantiin otak buat mikir. Yuuk...

Hari ini, saya tinggalkan kreatifitas saya untuk jadi arsitek maya. Saya beralih pada pekerjaan baru saya sebagai tukang jepret gratisan. Pagi ini kelar ibadah malam dan jadi jemaah mesjid terakhir, tidur saya bablas sampai jam 9 pagi. Well, saya yakin semua setan sedang terbelenggu di neraka. Tapi saya juga yakin, bahwa ternyata saya sendiri merupakan makhluk yang dapat mengakibatkan kerugian. Sebuah telepon koar-koar dialamatkan buat saya yang kebetulan uda keburu semedi di kamar mandi. Usul punya asal, kalu asal jangan usul, telepon yang asalnya dari bibi (istri paman) saya meninggalkan pesan bahwa, "Bisa kah ambil foto kita 1 kantor?". Yang saya pikirkan (jauh didalam dengkul saya), biaya sekali jepret instansi pemerintah harusnya lebih mahal dari pada foto keluarga (mengingat bibi sekeluarga pernah saya foto gratis). Ohohohoho..... bukannya perhitungan, tapi ini namanya strategi pembangkit semangat. *elus jenggot.

15 Menit gada kabar email, bibi kembali menelepon. Saya? masih bertelur di kamar mandi. Masih berpura-pura jadi diva yang lagi konser dangdut. Pura-pura jadi Nabilla di sinetron Cinta dan anugerah. Pura-pura lupa ada konsumen minta poto. Well, rasanya yang ketiga lebih mendekati kebenaran. Sampai akhirnya 30 menit kemudian saya keluar dengan kepala berasap. Keluar dengan peralatan lengkap (wajan-panci-centong >> siap perang ama Farah quinn). Ternyata saya sudah dijemput oleh bibi. The hummer limousine , ouw yeah baby take me in, mister. Ke Dallas kita. Tapi readers, buang jauh semua. Karena kenyataan nya saya dijemput oleh mobil ambulance (backsound sirine muncul, kartun suster-suster sexy ma mantri uda ngejek-ngejek di kepala). Woooot...? Saya sangat tahu bibi saya orang kesehatan yang sangat sayang pada kesehatan. Mungkin lelucon ramadhan hari ini adalah, saya disuruh berpura-pura jadi mayat, korban kekerasan kota sejuk adem seger, terus keluar ambulance sambil nari Yospan plus bawa Tifa. Huee... apa bener gitu yak? Nawaitu saya lakukan pelan-pelan, dan sampailah saat mengatur 36 orang yang susahnya --masya Allah, cubit saja bibir saya-- ndak mau diatur. "Jadi mbak, saya sudah ok?" atau "Mbak, harusnya ibu itu disini yah?"... paling parah... "Mbak, tahilalat saya enaknya dipindah kemana ya?" >> Khayalan saya saat itu, "Selepas ini, kantor kalian ku acak-acak" *ketawa-ketawa mringis. Jepret sana-sini dengan tempat ma pencahayaan yang seadanya, mulai gerah karena aula gak dipasang ac, tapi cuma disediain kipas tukang sate, jadilah tu kamera ikut keringetan juga.
Bapak pimpinan yang juga kayaknya main tebar pesona (tuh orang masih muda katanya, tapi saya ndak minat jadi pembantunya). Akhirnya, prosesi pemotretan aparatur negara selesai dengan ucapan terima kasih. Yaa, ucapan saja, ana sudah senang (berusaha tabah menghadapi kenyataan, ngelus kamera, "Nasibku kok melas, yo nduk?!"). Saya dan bibi akhirnya pulang...*menghela napas...dengan ambulance (yang sebenarnya saya sduah penasaran lama bagaimana rasanya menaiki fasilitas negara, minimal, saya gantiin sirine, duduk di atas mobil).

Yowes, ora pareng (baca : ndak baek), bergunjing masalah ikhlas bantuin orang. Yang penting kan pahalanya. Yo ndak? yowes, saya mbatik dulu nggeh? *benerin kain ma konde.



Salam sirine nguing nguing,

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…