Langsung ke konten utama

Menunggu-nya kita

Saya suka menunggu. Walo kebanyakan orang menunggu itu bikin capek hati, capek fisik, capek duit. Bener...semua saya telan mentah-mentah. Tapi sebelumnya, saya bentuk-kunyah-lepeh-kunyah lagi sampai akhirnya tertelan. Menarik? Nggak juga. Tapi saya selalu mau jadi kreatif versi saya dalam situasi apapun. Seperti 3 dari beberapa hari lalu, saya seperti tidak menunggu keperluan, tapi bersenang-senang. Awalnya, saya mengantar abang semata wayang saya balik ke rana Papua di Bandara, Surabaya (bukan pangkal ojek seperti yang ditudingkan selama ini). Saya awali hari itu dengan bangun pagi..hmm...bangun tengah pagi, dan berangkat pukul 3 pagi ditemani 2 sodara sepupu-sedengkul, dengan bekal sikat gigi dan permen sariawan. Sampai di Surabaya yang masih sepi, mlongo-ngupil >> Lapo yo disini? fyi, Surabaya tempat buang penat (karena saya tinggal di desa) buang stres (baca saja Inul Vizta) saya. Ngeeek... iya ember, ndak seperti orang-orang yang suka ke pantai-gunung buat refreshing, sesekali buleh dum. Saya kan anak Surabaya, lahir disana, walo tumbuh besar di hampr seluruh tempat di Papua, itulah kenapa saya bisa survive lama-lama di tempat lain selama bawa kamera-hp-ktp-kk-kartu cuci mobil.

Another story, tujuan ke Surabaya bukan ke bandara saja. Menunggu titipan barang menggiurkan keluarga & kerabat. Masing-masing dari daerah berbeda, satu dari Brisbane, satu lagi dari New Zealand, masing-masing 1 sapi perah bulu putih totol hitam (kedengaran seperti Dalmatian) dan keju mozarella kental (dibayangkan seperti ingus anak kecil 3 tahunan). Nuuup...semua cuma ngayal. Saya menunggu titipan durian Fak-fak yang terkenal monthok melebihi Tante Pamela dari salah satu kapal penumpang, dan otak-otak Makassar yang gada tandingannya, bahkan lebih enak dari otak Ilmuwan. Perkiraan kedatangan kapal sore ato malam. So, kami memutar otak untuk mengisi 10 jam kedepan. Cerita sebelumnya mengantar Kacrut (sodara pelit saya) untuk enjoy bareng kita. Singkat cerita, sebelum pertemuan dengan kacrut, saya pindah tempat tidur di tempat sodara yang lain (dan nodong sarapan).
Pertemuan dengan kacrut siang harinya, membawa kami dalam petualangan yang berliku. Sekedar iklan, saya gagal melakukan pertemuan dengan Jenk Fenty karena perbedaan jadwal pengajian. Jenk Fenty berada pada jemaah ibu-ibu koperasi, saya dan yang lainnya (termasuk kacrut yang harus rela dipakaikan jilbab berenda) pada jemaah ibu-ibu penggila karokean. Padahal saya sudah sangat tertarik bertemu teman blogger. Tidak sinkronnya situasi membuat kami juga berpikir keras untuk mengisi waktu menunggu kabar dari 2 barang penting nik-nak (nikmat enak). Kelar nonton disalah satu bilangan Plaza kebanggaan kami (TP, dibaca tebar pesona), kami melanjutkan penantian di Inul Vizta, sungguh, ini godaan paling besar. Susah menolak, namun takabur setelah di dalamnya. Jika jempol saya ada 100, saya kasih 101 (pinjam jempol kacrut 1) buat tempat ini. Hmm...saya dapati update-an lagu yang terlalu shock untuk di artikan. Lagu BoA bertengger banyak di layar. Subhanallah, saya harus melakukan sujud syukur. Tempat ini sangat eksotik. Sampai-sampai saya babat habis hampir semua lagunya. Saya bikin embun di kaca, lalu saya tulis 노라 >> nama saya dalam bahasa korea. Biar abadi. Hehehe... kelar inul. Kabar yang ditunggu tak kunjung muncul, berubahlah sore jadi malam. Kami pergi ke.... salah satu fasfut di salah satu spot favorit saya, baca saja Sutos. Menempati lantai 2 yang sepi tak berpengunjung. Ide gatal pun mulai tak terkendali. Buka tas-ambil-kamera-buang. Hoooo...bukan buang, dipakai. jepret-jepret-jepret.

Jepret sana-sini, sampai batrei mau habis. Taraaa.... Kenyang, senang, memalukan.... Mengapa? Mengingat kondisi tempat sangat stategis untuk dilihat pengunjung yang lain. Tanpa sadar, kami yang sampai ndlosor, ngesot demi mendapatkan hasil foto yang bagus. Nampaknya, perilaku anonoh (baca saja tak ladzim) kami dilihat-dibicarakan-ditertawakan-dicaci oleh semua pengunjung. Ouw yeah...dengan senang hati saya rela pakai topeng Annisa bahar ato mungkin Lindsay Lohan biar dikira orang saya duplikatnya. Dan wow, kami keluar dengan tangan dimuka, kaki diatas, mulut dibawah. Bukan sirkus. Saya harap, satpam wanita tadi tidak membuntuti kami yang mengira teroris karokean. aiiih....
Pulang dengan senang? Yaaah...walopun kabar 2 barang nik-nak tidak sampai ketangan sampai akhirnya saya balik pulang (pergi pagi buta, pulang tengah malam, bukan ciri khas muslimah menarik seperti saya), we had a great time.




Salam ngaroki,

Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…