Langsung ke konten utama

Liburan Kemarin

Akhirnya nyampe juga di Papua juni kemarin. Setelah tarik ulur tarik lagi benangnya, nyangkut juga tu layangan ke wc tetangga. Ah, ya, perkara gak jelas emang selalu jd penghalang. Napa kq gak kemarin2 aja mangkat ke papuanya? Yaah, saya takut jet lag lagi, takut pramugari iri liat jaket hood saya, takut pramugara tanya alamat ema├Čl. Alasan kan? Iya kan? Tapi bukan karena perjalanan 5 jam di pesawat. Dan hasilnya, selamat juga nyampe di rana tanah merah. Mendarat dengan selamat di bandara Sentani. Injakan kaki pertama pun berasa kaku kuku kaki kikakikukokakeku. Argh..too much k and diftong. Sebenarnya gada yg bikin saya gak mau bertandang ke sini. Tapi, yg bikin gairah saya kumat lagi, suasana kulit item rambut kriting kental banget. wuw.. Saya jatuh cinta lagi. Jatuh cinta ke 4 kalinya, setelah 2 kali dengan petugas bandara, sekali dengan tukang ojek.Hehe... Diluar ekspektasi saya bahwa liburan ini akan monoton. Bla bla bla... Babi dijalan, lepehan pinang, harga bakso 12000 IDR, orang mabuk seliweran siang hari. Semua ada disini. Papua, I feel for you. Kenapa masih ada yg gak betah disini? Untuk menyambung hidup saja kita sudah bisa dapat KFC, Exelco cafe, Pizza Hut, Happy Puppy buat jaga kesehatan suara. Hehe...hedonisme masih jadi aura tersendiri.

Oia, saya akhirnya ketemu dengan sang blogger salah duga genre, Luciana si perez malebay. Hihi... Salah satu blogger sintal yg super puede ngalah ngalahin Indra Bekti. Pertemuan gak sengaja berawal di suatu hari. Saya hubungi anak (yang ternyata) Malang juga. Ternyata eh ternyata, keberadaan saya dan bung Perez hanya berkisar 10 meter saja. Deket bukan? Saking berdekatannya, bung Perez sempat meninggalkan pesan singkat kalu dia ndak pede. Seperti adegan kencan buta, kita tukeran info tempat, warna pakaian, dan nama kakek. Hmm, saya mendapati anak hilang ini di salah satu (cuma satu, ada yg lain) bilangan Mall kebanggaan rakyat Jayapura. Saya, dengan tentengan rujak manis sekantong besar, terlihat seperti ibu2 langsing penjual rujak penghipnotis satpam yang diam-diam masuk mall buat jualan. Dan bersegeralah kita sholat berjamaah. Hehe..ndak, langsung saya unang bertandang di gubuk saya yang sederhana. Fakta yang saya lihat di lapangan, bahwa teman saya yang satu ini tidak bisa main bola sodok. Hmm... apa kebanyakan anak satu profesinya tidak bisa? Satu lagi, ternyata rumah kami di Malang dekat sekali. Bukan sedekat bibir dan hidung. Tapi cepat dijangkaunya. Setelah berkolaborasi, tatap muka, tukar info-pengalaman, senda gurau, lempar granat, tembakan beruntun, wuduh..perang suku deh lempar koteka. Kami pisah tidak lama, smapai akhirnya kita bertemukan lagi oleh Tuhan dalam acara Cas Cis Cus Kalidosai bohai. (Duh) Aneh. Hari keberikutnya, kita berekreasi bersama. Bawa tikar, keranjang berisi roti gandum dan selai madu, jus lemon >> (kenyataan di lapangan) >> Bawa koran buat duduk, roti sisir yang besok uda kadaluarsa, susu cair yang uda banyak semut mati di dalam, air putih sisa tadi malam. But we had a great time. Gak percaya? Perjalanan yang ditempuh hampir 2 jam kita lalu dengan dzikir bersama. Hahaha... masa iya yah? Sapa lagi kalu bukan adek bontot saya yang jadi the best cerito ngakak 6 tahun terakhir. Pertemuan selanjutnya kami habiskan malam di tempat pembuangan suara di daerah (jyah.. lupa). Bung Perez bersama seorang temannya, sebut saja Rofi-Ropi-Rapi-Rido Rhoma? Haa... lupa saya nama tantenya. Dan, panaslah api neraka >:) .
Semua menggila. Bung Perez dengan Belah Duren-nya Jupe, Bung Ropi dengan Single Rido rhoma, saya dan yang lain? Standar lah. Balonku ada lima sampai Abang tukang bakso, mari mari sini, aku mau nyuri. Cukuplah memeriahkan suasana. Tapi akhirnya, jiwa dangdut saya terasah juga ya? Tak tahan goyangan Bung Perez, duet maut saya dengan Bang Ropi dalam lagu Memandangmu mengakhiri malam terakhir pertemuan kita (booooh.....).

Singgah di Papua saya teruskan ke kampung halaman bapak saya, Fak-fak. Kota kecil yang cuma bisa dilihat di peta. Yang cuma bisa didengar dari ceritanya. Perjalanannya pun ala film James Bond, pesawat kecil yang bukan Commercial flight. Wuduh, duduk tepat dibelakang pilot dan co-pilot yang sedang merokok bikin puyeng. Berasa dekat dengan kematian. Malaikat pencabut nyawa terbang juga disebelah pesawat. Tiba di Fak-fak, sepanjang jalan sudah keliatan durian montong semok minta gendong (kemana-mana). Walo gada orang mabuk, babi keliaran, aura Papua masih kental. Rela aja deh tua di Papua. Jadi pengusaha koteka juga mumpuni. Ato jualan cilok ato mungkin cireng. Relaaa.... Ada yang minat?

Sekarang, setelah balik dari Papua, dan duduk manis di Malang. Perasaan kok masih bau-bau laut depan Gubernur-an yah? Huaduuh, seringnya liatin Noken (Tas asli Papua) juga masih dijabani. Tidur larut malam terus bangun agak pagi juga masih dalam bayang-bayang Papua. hmm, still feel for you, Papua. Gak nyesel saya balik lagi kesana. Gak nyesel saya batalkan konser besar saya di Pattaya, gak nyesel juga saya tolak 10 pria buat balik lagi ke bumi cendrawasih. >,<




Salam Lepehan Pinang,



Postingan populer dari blog ini

Ciptaan Alloh bernama mentega-margarine-butter-roombutter

Assalamualaikum,
Well, ini postingan dadakan yg mengejutkan. Kebiasaan saya pada roti (apa namanya ya?). Ah, pokoknya setiap saya mencuci mobil ditempat ini, sedikitnya saya makan satu roti kismis yang menurut saya endul. Roti biasa dengan merk "F" (huruf awal yg sebenarnya). Sudah bertahun-tahun lho saya mengkonsumsi kudapan ringan ini. Tak lama setelahnya, pagi ini, beberapa menit setelah saya memulai postingan ini. Dengan mulut penuh roti saya iseng melihat komposisi dari roti ini dan saya mendapati tulisan roomboter (begitu tertulisnya). #Gleeek.
Saya cemas, bingung, panik. Maklum, saya bukan orang yang senang dengan istilah-istilah perkuean begitu. Untung ada komunikator yang bernama hape. Saya hubungi juragan kue, sahabat saya, Bude Xocolatl. Saya bertanya "Roomboter itu rum?" sambil berharap dalam hati seraya berkata, "bukan dong ya. Plis bukan". Lalu Bude itu menjawab, "BUKAN" >> zoom, bold, font extra large. Alhamdulillah. Yaa, b…

Jauh Dekat Rp.500

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang? Atau masih banyak yg harus dipenuhi untuk mencapai titik kepuasan dalam hidup? Mungkin merasa berlebih sehingga bisa dibagikan untuk orang lain? Atau bisa jadi rasa cukup dengan segala kekurangan yang ada?
Saya tertarik dengan wacana kecil yg terjadi sehari yg lalu. Saat saya bergulat dengan uang logam dan minyak gosok bersama dengan tetangga super baik hati yg mau menjamah saya dengan keahliannya "mentato". Dia membuka pembicaraan santai itu dengan obrolan ibu pkk, yang seketika saya juga dipaksa berubah jadi ibu beranak 3. "Banyak yang iri dengan saya karena teman-teman saya dari kalangan berada". Saya tersenyum, entah arahnya kemana. "Tapi saya sama sekali gak nyaman dengan omongan mereka yg dikaitkan dengan bahagia dan materi". Saya diam, masih terasa bekas kerokannya, sampai saya hampir nungging. "Kenapa memangnya,bu?" tanya saya. "Saya gak malu,saya suka berteman dengan siapa saja.Tapi tidak un…

Otot Barry Prima

Kemarin sore menjelang malam, mungkin dibilang malam aja biar enak. Saya ditodong sepupu saya untuk diantarkan di salah satu Gedung Olahraga terbesar dikota Malang (bangga, setelah jadi finalis UKS tingkat nasional). Awalnya saya tidak tau ada apakah disana  selain bangunan besar dan parkiran mobil. Embel-embel jemput teman, saya iya saja, polos-ly(baca : secara polos). Oke, saya pun diberitahu kalo ada event olahraga seprovinsi jawa timur. Hmm, tertarik, karena saya salah satu olahragawati cabang sepak orang. Sampainya disana, langsung aja dah masuk ke tempat yang dituju. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah, --eng ing eng--, saya terjebak diantara pria-pria sintal dengan otot gatotkaca dan sangkuriang dimana mana. wow, kontes binaraga dan saya ditengah-tengah para binaraga-ularnaga-panjang-bukan-kepalang. Subhanallah, mimpi apa saya semalam. ouw, mimpi berteman dengan kecoak berarti pertanda baik. Oke, masuk, dan menunggu. Sepupu saya (yang badannya juga gak kalah berotot kayak gi…