6.11.09

Musik di Telinga



Saya sedang dalam mood yg baik. Tidak dalam pertengkaran batin, perebutan harta gono-gini, dan hal kecil lain yg memungkinkan memecah belah pertemanan. Oh, no.. saya bukan salah satunya. Setidaknya saya jadi orang "normal" dari beberapa hari setelah bangun dari pesakitan kemarin. Jangan tanya bagaimana cover dokter cucok yg saya ceritakan. Hahaha... tak pantas ukhti seperti saya bisa sebegitu hebohnya melihat ikhwan mapan kayak gitu. Kata emak, ndak pareng(baik). Saya dalam keadaan paling labil sepanjang tahun ini. Dan keberadaan saya ini tak lepas dari sentuhan MUSIK. Mellow? ah..ndak juga. Apapun genre musiknya(well ridho, dangdut juga musik kan? puas loe?), serumit apapun liriknya, seamatir apa produsernya. Musik hidup di dalam tubuh saya (jangan berpikiran saya selalu bawa iPod dari bangun sampai tidur lagi). Mungkin nyokap suka dengerin lagu Balon ku ada lima, Burung kakak tua, ato Geef mij maar Nasi Goreng waktu saya masih di perutnya. Saya bukan orang yg gila karaokean (ok, yg tersinggung, masuk ke bilik karaoke lagi gih), tapi saya gak bisa hidup tenang kalo gak dengar musik. Saya biasanya lebih milih searching sendiri instrument lagu favorit saya, terus saya bikin sendiri video minus satu-nya. Atao saya taruh di usb terus pasang di kendaraan saya. So, lalalalala. Saya punya banyak tempat karaokean.

Beberapa lagu punya cerita sendiri. Yeah, semua orang juga punya. Untungnya lagu Balonku ada lima(harusnya 8, yg 3 mbledos semua) bukan lagu paling berpengaruh lagi. Setidaknya saat sudah besar gini. Hehehe... Lagu-lagu dibawah ada pengaruh ceritanya buat saya. Ngaruhnya mungkin ke selera makan (berharap ada yg lempar bakiak, bumerang,ato sandal jepit).
  • Jermaine Jackson (Next to you) : Semua tahu ini kakak Mr.Jakcson yg paling tua. Saya gak sengaja nemu lagu ini di kompi saya di folder Tembang lawas yg size folder yg hampir 1 gb. Awalnya saya ketawa sendiri karena ni lagu kewer kewer jadul banget iramanya. Hahaha.. liriknya juga pujangga banget, ...."When my heart is missing you, i know just what to do, i close my eyes and count to ten, and i'll be missing you...". Kalu saya mah, tutup mata, tidur aja. Ngapain buka lagi? Pengaruhnya : Jadi ingat ipar saya yg lg nunggu abang saya buat dilamar. (*Otak kiri bilang : "Bilang aja loe yg lg nunggu orang.Pake ibarat ipar segala.").
  • Robbie Williams (Things) : Haha... Pertama dengar, saya cuma geleng-geleng. Om Robbie bisa juga jadul. Cerita lagunya juga lucu. Kayaknya mungkin cerita si Om sendiri ma tante Jane. "...(Thinkin' about the things) like a walk in the park, like a kiss in the dark..What about the night we cried?...".
  • BoA (Moon & Sunrise) : Cewek Korea yg albumnya lengkap saya koleksi. Salah satu favorit saya. Cerita lagu ini tentang jauhnya BoA(di Jepang) dengan keluarganya terutama nyokapnya yang ada di Korea. Dan lagu ini emang khusus diciptain buat nyokapnya. Nha, nyamain keadaan kalo saya juga lagi jauh ma bokap ma abang saya. Miris sendiri kalu dengar lagu ini. "... The wind blows and people crowd the streets. Your voice becomes distant little by little. The moon shines, the day dawns, the sun sparkles. I continue forgetting like this. Smiling at least even a fake smile is a beautiful thing. Only tears are honestly crying. To laugh if i can meet you again." (Duh, mellow).
  • Luther Vandross (Dance with my father) : Saya selalu salut sama penyanyi kulit hitam ini. Suaranya dahsyat semblogah merajai dunia(halah). Teknik vokalnya top markotob. Lihat saja dia waktu nyayi bareng Dionne Warwick, Stevie Wonder, Whitney Houston di lagu That's what friends are for secara live. Ajegileeeee...... tapi salah satu lagu popularnya ini bikin ingat teman-teman saya yg suka curhat tentang bokapnya. "...When i and my mother would disagree. To get my way, i would run from her to him. He'd make me laugh just to comfort me...".
  • Michael Jackson (She's out of my life) : (Duh) Biar diputar 10x, saya suka berkaca-kaca. Apalagi lihat MV nya Mr.Jackson sendiri (bukan waktu dia garuk-garuk kepala diawal lagu. Hehehe...). Kayaknya tuh lagu pribadi dan dalam banget buat dia. Buat saya? Hmm... saya berpikiran kelak ada pria yg nyanyi lagu ini di ulang tahun saya yg ke 30 (Buset... 17 tahun lagi. Hahaha.Bajak umurnya kebanyakan). Tapi kok berasa kasian banget yg nyanyi lagu ini? Mr.Jackson aja sampe kelepasan mewek di akhir lagu. Keliatan banget kan kalo ni lagu buat Tante Brooke Shields. Iya gitu?. "...And I've learned that love won't wait. Now I've learned that love needs expression..".
  • Christina Aguilera (The Right Man) : Cewek bibir tebal kayak adik saya ini suaranya paling berat setara ma penyanyi berkulit hitam (bangganya saya berkulit hitam, tepuk bahu) ciptain lagu ini khusus buat suaminya di hari pernikahannya. Kawaiii... Liriknya yang dalam bikin iri. Ah.. iya iri (dasar gak mampu loe, *ngomong sendiri). Mungkin saya jiplak juga lagunya.Hmm.. saya simpan buat nikahan abang saya (baru saya. "Ah..dasar iri". *dumel sendiri). "... I have waited for this moment with tears of happiness. Here i leave behind my past by taking the chance. I finally found the right man...".
Dan.... sampe jam segini, uda pagi buta mata gak bisa nutup juga. Gara-gara musik pula. Argh.... Uda kenyang dengerin lagu. Laper pula (krucuk). Wes yah... next post. Special keanggotaan "keluarga" saya. Dagh....!!
*Kekamar emak, minta dipijitin.



Salam not balok,

1.11.09

Getting better since I met you, doctor.

Dua minggu ini saya sakit parah (padahal kata nyokap saya sudah “sakit” sejak lahir). Dua minggu itu pula saya berpikir bahwa hidup saya tinggal sebentar saja (it means sekitar 60 tahun lagi, Amin ya Rabb). Kronologisnya, saya mulai pusing di pelipis mata kiri. Peningnya bukan di otak atau dalam kepala, tapi benar-benar sakit di luar etika persakitkepalaan. Ironi memang. Saya saja bingung bagaimana menjelaskan chemistry antara aku dan dia (menjabarkan kisah cinta manusia dan perihal sakit pelipis mata, gak eliiit blas). Dan yang paling aneh, pusing itu datang seperti spg yg dapat bagian shift pagi. Yeah, datangnya antara jam 9 pagi- 12 siang. Sepertinya saya kenan santet, pelet, melet. Aneh kan? Iya aneh, saya lebih aneh karena nangis-nangis sendiri gak jelas, meringkuk di sudut kamat sambil pegang boneka spiderman. Aarrgh… mengingat lagi kayak seperti ini saja sudah ngeri. Gak mau sakit lagi. Saking sakitnya, pelipis saya membengkak seperti habis tawuran sama anak TK Bakti Pertiwi (ada emang nama itu?).

Dan beberapa hari lalu, saat nyokap lagi diluar kota, niat saya pun bulat elips untuk pergi ke dokter. Iya dokter mata. Awalnya saya berpikir bahwa mata saya adalah faktornya. Dan saya kudu latihan di depan kaca ala wanita karir yg pake kacamata, “Selamat Pagi, saya Nora, bagian keamanan” (sambil naikin kacamata, sok suci). Terus minta pendapat nyokap, “Mak, kalu pake kacamata gimana? Cocok gak ya?”, nyokap Cuma jawab nyantai, “Tuh satenya di habisin dulu”. Oalah mak. Akhirnya, dengan segala macam negosiasi, rujukannya adalah ke Dokter umum. Berada 1 km dari rumah, keberadaan dokter rekomendasi paman saya yg katanya masih muda. Katanya sih, karena gak perlu antri panjang (ini dia yg bikin dag dig dug ser, “gak banyak antri” menurut masyarakat Indonesia adalah sesuatu yg mengalami ketidaklakuan, diragukan). Dan setelah tanya bagian informasi, saya ambil nomor antrian 1. Yes, selama hidup gak pernah dapat antrian pertama. Rekor terpecahkan. Karena waktu praktek juga lama, saya beserta rombongan Ibu-ibu pengajian keluarga siaga, pulang dulu. Sampai akhirnya balik lagi sambil bayangin gimana bikin gaya juara “antrian nom 1” akan di pamerin.

Sampai di tempat praktek dokter, semua rekor pun perlahan gugur, selempangan juara juga kayaknya compang camping di gunting setan, medali emas juga berubah jadi kayu rapuh. Antrian saya di duluin. Artinya, percuma banget bawa antrian, dibangga-banggain, di foto berbagai gaya dengan aksesoris kartu antrian 1. Argh… Parah. Tapi ya sudah lah. Toh akhirnya masuk juga.
Nunggu.
Kriik…
Kriik…
(hampir 30 menit nunggu pasien).

Voila, saya masuk juga. Akhirnya saya berhadapan dengan dokter muda dan tampan yang kayaknya sudah jadi suami orang. Pertanyaan di lontarkan, banyak sekali. Dari sakit tenggorokan, migrain, vertigo, pola makan, sampai nomor sepatu (forget it, manipulasi). Lalu pemeriksaan. Ouw my, saya pikir pemeriksaan detak jantung biasa dan tekanan darah. Itu lah alasan saya untuk memakai rok pada hari itu. Salah. Dia periksa bagian bagian lain. Hmm… bagian perut, yg bisa mungkin melihat rangkepan saya. Haiyah, dia lihat piyama hijau ngejreeng saya, sodara. Aseeeem.. Ngerti gitu saya pake terusan polkadot motif hati. Gila aja diluar keliatan rapi, eee… pas diperiksa, baju tidur masih nempel. Dasar bau. Hrrr… salah nopo tho aku iki, Gusti? Ya ampun dokter, malu juga saya lihat muka dokter cekikikan gak jelas nertawain saya. “Ciih, kalu besok lu periksa lagi, pasti gw bakal nutup praktekan. Gak sudi ma piyama ijo lu” >> skenario Nora tentang pikiran dokter setelah insiden piyama ijo royo-royo.

Dan sekarang, semakin baik saja kondisi saya (mungkin setelah ketemu dokter). Oia, saya belum bilang juga kalu dokter belum tau apa penyakit aneh saya. Tapi tahap observasi 3 hari akan dilihat hasilnya senin ini. Hmm… saya harap cuma kena panu ijo biasa.




Salam obat bius,