19 Mei 2016

Surat terbuka untuk BNI (ikut gelombang yang kini-kini)



Dari tahun 1999 masih ingat tuh, Mama hadiahin buku tabungan untuk pertama kalinya waktu saya duduk di sekolah menengah pertama. Ini buku tabungan pertama yang ada duitnya. Maksud saya, yang benar-benar kepunyaan saya untuk jadi celengan sungguhan. Dengan bangganya ada nominal Rp. 200.000 tertulis di buku tabungan BNI saya. Alhamdulillah. Belajar menabung juga akhirnya. Karena Mama Papa saya sudah sejak lama memang punya tabungan BNI jadi, ya, kami bertiga (saya dan dua saudara saya) juga ‘wajib’ punya tabungan di bank yang sama.

Selain tabungan pribadi yang tiap bulan saya titipkan ke Mama untuk ditabung, Mama dan Papa memang sudah merencanakan untuk membuka tabungan berupa deposito sebagai tabungan lebih untuk kami bertiga. Well, pertama kali saya ke bank BNI Malang saat itu. Disambut dengan adegan drama seorang nasabah yang karena terburu-buru, menabrak pintu utama bank yang saat itu masih saya ingat, putih polos. Saking bersihnya. Sambil menahan malu dan dibantu pak satpam yang juga mau gak mau ikutan tersenyum juga. Nha, dari sini nih, masih ingat betul bagaimana pola pikir saya mengenai petugas keamanan yang biasanya pasang muka ‘galak’ nan seram, gugur sudah. Bapak satpamnya sangat santun. Siap membantu siapa saja. Ini tanpa pilih-pilih. Nasabah, kah? Petugas kurir, kah? Tua, muda, anak kecil, orang dewasa. Semua sama. The nicest service ever seen. Kagum. Iya. Masih ingat juga. Karena saya juga dulu masih belum berani untuk berinteraksi dengan orang-orang baru. Bapak satpamlah yang dahulu bertanya apa-apa yang kami butuhkan. Super. Untuk anak pemalu seusia saya dulu, ini termasuk pembelaran untuk gak perlu malu menghadapi orang dewasa. Setelah dipersilahkan duduk dan menunggu. Tiap nasabah kerap diperhatikan nomor antriannya. Jangan sampai terlewatkan. Setelah menuju ke teller untuk menyetorkan uang, tetap saja dibuat kagum dengan perempuan muda yang dengan senyum sebelum kami menuju mejanya. Hmm... saya belajar satu hal disini, dari dulu. Bahwa senyuman mampu membuat seseorang merasa nyaman sekalipun bukan berada di lingkungannya. Ini masalah mental. Tentang menghadapi banyak orang yang beragam. Tentang kesabaran dan kesantunan. Saling belajar untuk berinteraksi secara sopan. Belajar mengantri tanpa harus menyela yang lain. Hal ini penting seiring saya besar. Bahwa pelayanan bukan hanya masalah sistem. Tetapi pengarahan dan perhatian terhadap nasabah agar teratur dan mudah dalam kepentingannya. Saat saya SMA dan mempunyai identitas sendiri. Mulailah saya harus mempunyai buku tabungan atas nama saya sendiri. Bayangan nama Nora Veronica Kastella sudah diangan-angan. Buat saya waktu itu, luar biasa. Hehe...Alhamdulilah. Kesan yang sama yang saya dapatkan ketika pertama kali ke bank BNI dulu tetap sama. Hanya, sekarang dengan orang-orang yang baru dan tempat yang jauh lebih nyaman. Oh ya, informasi penting untuk seseorang yang wira-wiri ke toilet seperti saya. Selain keramahan petugas bank, toiletnya selalu bersih dan wangi. Ini tentu jadi penilaian saya pribadi yang patut dijempoli. Karena biasanya fasilitas umum terkesan sangat kotor dan bau. Tapi di bank BNI, big no no. Bahkan seperti rumah sendiri. 

Setelah masuk tahun 2004, saya mulai ‘serius’ dalam pelayanan bank BNI. Ini saya lakukan dengan mulai mengurus kemudahan yang ada. Seperti menggunakan mobile banking dan e-banking. Ini saya lakukan agar lebih mengetahui apa-apa yang ada pada tabungan saya. Ya, walaupun saat itu masih menabung dari duit orang tua. Ini yang seru. Walau awalnya sempat ragu bisa menggunakan layanan tersebut. Tapi lama-lama kelamaan sangat mudah dan terbiasa. User friendly. saya punya tabungan dengan bank lain yang saya gunakan dengan layanan yang sama dengan bank BNI. Sebagai suatu contoh. Saat menggunakan transaksi transfer, tidak perlu repot untuk petunjuk yang lama dan susah. Dan kemudahan BNI semakin terasa sampai sekarang.

Setelah menikah, saya anjurkan suami untuk menabung tabungan haji di Bank BNI. Awalnya memang hanya bertanya, namun semakin yakin dengan bank BNI untuk kepengurusan tabungan haji. Apalagi sekarang setelah mempunyai anak. Rencana untuk membuatkan tabungan pendidikan dan tabungan hajinya semakin besar. Saya sampai mengenal beberapa karyawan BNI saking seringnya saya melakukan transaksi di bank tersebut. Awalnya karena mengurus segala keperluan pernikahan. Hahaha... dan kebetulan si mbak tellernya juga sedang melakukan persiapan pernikahan. Lalu salah satu costumer service yang sedang mengandung (pada saat itu saya juga sedang hamil). Jadilah obrolan tidak hanya tentang per-bank-kan. 

Tiap kali saya melakukan transaksi atau penggunaan layanan, selalu teratasi dalam waktu yang singkat. Orang-orang yang santun memang salah satu kunci pelayanan terbaik yang dimiliki oleh perusahaan. Perasaan nyaman inilah yang dirasakan oleh calon nasabah ataupun nasabah dalam mengatasi masalahnya. Walau menggunakan lebih dari satu bank, tapi transaksi utama dan yang sering saya lakukan adalah BNI. Ini jujur. Memang betul-betul merasakan bentuk kemudahannya. Apalagi setelah berumah tangga dan menghabiskan banyak waktu sebagai ibu rumah tangga serta profesi pekerjaan yang memang saya lakukan di rumah pula, memenuhi kebutuhan saya pun bisa saya lakukan tanpa harus keluar rumah. Seperti membayar listrik, kartu paska bayar, transfer ke bank lain, membeli tiket atau lainnya. It’s easy by a click.

Dan semoga,kemudahan ini akan lebih baik seiring persaingan dengan bank lain. Pelayanan yang kami rasakan sekeluarga benar-benar merasa diuntungkan karena kemudahan yang diberikan. Tanpa perlu datang ke bank, tanpa menelepon customer service bisa dilakukan dengan sangat baik. Dan semoga pelayanan ini terus dipertahankan dan dikembangkan. Baik pada layanan pada bank pusat atau cabang, atau pelayanan sistem.

Terima kasih BNI sudah memberi kemudahan kepada saya selama 16 tahun. Tetap jaya, tetap terjaga, tetap amanah.

1 Sep 2015

Masih seputar Ibu-ibu

Assalamualaikum,

Sedang menikmati peran sebagai Ibu baru bersama Uwais. Alhamdulillah. Sampai saat ini, sudah sebulan hidup bersama si kecil lucu ini. Hal apapun yg membuat kehidupan saya berubah seutuhnya. Ya, anak mungil inilah yg menjadi alasan mengapa saya diajarkankembali untuk bangun tengah malam. Untuk lebih dekat dengan Alloh tentunya. Mengapa saya harus menjaga pola makan saya untuk dia, menjaga untuk makanm akanan yg sehat. Mengapa saya harus menjaga sikap saya karena itu sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya. Iya, saya takut dan khawatir kalau tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuknya. Jadi, apapun upaya saya saat ini, bukan hanya menjadi Istri dan seorang pekerja seni bukan artis, tapi tanggung jawab dan kewajiban yang saya dan suami saya pikul semakin bertambah.

Berpikir positif agar Alloh memberikan kami rasa syukur yg teramat tiap kali diberi ujian dan kemudahan, semoga itu berlabel nikmat. Semoga berkah di tiap tindakan.

Btw, ternyata sebulan ini tidak terasa sama sekali. Begadang tiap hari, bingung menerjemahkan tangisan, membersihkan kotoran, memandikan, sampai anak keranjingan gendongan. Masya Alloh. :)
Adakah hal lain yg lebih indah daripada ini?! Saya rasa, 29 tahun hidup saya, hari pernikahan adalah hari paling membahagiakan, namun ternyata bersama Uwais tiap waktu dan mengenalnya tiap hari adalah sesuatu yang nikmat. :))

Salut, untuk tiap perempuan yang saat ini sedang memperjuangkan untuk mendapat keturunan, yang sedang mengandung, yang sedang mengalami persalinan, dan  yang sudah menjadi Ibu. Kalian hebat. 



Wassalam,