17 Nov 2014

Pugar rana

Dan kadang kita bercerita, yang hanya didengar gemuruh udara
Atau kadang kita sedikit mengarang perasaan
Pada habisnya titik pena

Kita melompat bersama, mencoba bersahabat akan waktu yg memang memaksa kita untuk maju walau dapat kita tengok sesekali ke belakang

Kita melihat fana, yang sering kau lihat aku pada gelap, atau kita yang melihat indahnya maksiat

Kita tidak melukis keterbiasaan, karena kenangan bisa akan sangat menyakitlan bila diangan-angan
Kita hanya ingin melukis indah pada tiap taat yang hanya tercatat di istana langit di atas sana

Hanya tiap inci dari tiap-tiap rindu, untukmu.....



Apalagi untukNya.



Wassalam,
Renotxa



1 Nov 2014

Di bagian manakah?

Assalamualaikum....

Satu langkah cerita, yang disusun pada suatu malam. Sedikit kelam, pada waktu ternama nikmat pernikahan. Aku dan pria kecintaan lain setelah Ayahku. Saat hak ini tertuntut untuknya. Lalu ia mulai kisahnya dari kisah yang lainnya. Yang tak jauh dari bagaimana menghambaNya. Yang ia tebar bagaimana rupa-rupa manusia setia pada RabbNya.

Satu waktu yg berharga. Cerita atas seseorang yang terluka raga hingga tak mampu ia berdiri diatas dunia. Pada suatu takdir yang mungkin saja ia tak terima. Bahwa ada sesuatu yang istimewa terjadi padanya. Ya.. memulai hidupnya dengan tertatih lemah. Semangatnya tidak pudar. Kesempurnaan raga sudah termakan waktu. Namun... suatu ketika, ia memulai lagi untuk bercinta dengan RobbNya melalui 'pena' pada lembaran ternama mulia. Al Quran. Begitu ia cinta sampai-sampai tak ada yg dapat ia lakukan selain hanya membaca surat cinta Tuhan pada UmatNya. Ia bisa saja terluka. Tapi tidak hatinya. Tidak semangat yang membara akan juang sabar. Ia tahu, ujung nantinya ia ingin bertemu kekasih para hamba-hamba yang rindu dan cintaiNya. "Bagaimana ia melakukannya sedangkan kaki dan tangan tak mampu ia gerakkan?". Satu dari ribuan tanya yang akupun ikut didalamnya. Mungkin tangan dan kakinya tak dapat ia manfaatkan penuh saat ini. Tapi dengan mulutnyalah ia membaca Al Quran. Dengan hatinyalah ia titipkan rindu pada waktu yang mengantarkan pada ILLahnya. 

Kata kecintaanku, sebelum kami terlelap dalam tangisan. Alloh memampukan tiap-tiap insan sesuai dengan kadarnya. Dengan apa yang ia bisakan. Seseorang yang kaya akan dimampukan untuk mensedekahkan harta dijalanNya. Seorang miskin akan dimampukan untuk berjalan di rumah-rumah Alloh untuk beri'tikaf (secara harfiah).
Lalu timbul tanya.... "Bagaimana posisiku saat ini dihadapanNya kelak?".  Bila masih begini, bila tetap ini-ini saja.

Bagaimana aku disayangiNya bila aku tak menyayangiNya dengan jalan yang sudah jelas ia sediakan untuk banyak manusia?!



Wassalam,