18 Mar 2015

Bendul

Assalamualaikum,


Terkadang tidak semua hal-hal yang memungkinkan dalam penulisan bisa ditulis. Dulu, pernah terpikir bahwa semua hal bisa ditulis. Semua dilakukan dalam porsi positif. Pedoman saya dalam menulis, Karena sudah harga mati. Kebebasan menulis adalah dengan tidak menebar suatu keburukan sehingga saya dan minimal satu pembaca saja tidak berubah menjadi pribadi yang su'udzon.

Well, sebenarnya bukan itu yg ingin saya tulis kali ini. Tapi, atas saran suami untuk menulis atentang pengalaman kehamilan saya di trimester awal lalu. Alhamdulillah. Alloh benar-benar mengatur segala sesuatu dengan baik. Tentu. Dia benar-benar Maha Bijak, Maha Baik dan hal-hal Mulia lainnya. Namun... Asal muasala dari paragraf pertama sama sekali tidak membuktikan apa-apa. Nyatanya saya tidak bisa menulis layaknya teman-teman hamil lainnya. Saya benar-benar stuck tidak punya pilihan kata-kata yg tepat. 

Kenapa?!

Entahlah, tidak tertemu jawabannya. Karena rasa yang luar biasa menjadi seorang yang akan menjadi Ibu, perasaan campur aduknya yang tidak bisa saya gambarkan dengan tulisan. Walaupun sebenarnya sangat mudah untuk menulis. Saya mual-mual, muntah-muntah, pinggang dan punggung saya sakit. Well itu hanya segelintir kecil dari perubahan fisik seorang wanita yang sedang hamil. Tapi lebih dari itu, rasa akan memupuk cinta dan kenangan akan Mama sangat besar. Bahkan tiap waktu bisa jadi ibrahnya sendiri. Tiap hari selalu menjadi kelas tersendiri. Bayangan akan panggilan "Umma" oleh anak saya kelak insya Alloh memang menjadi suatu impian tersendiri. Tapi, untuk hal yg sangat-sangat penting. Ah... entahlah pemirsa. Apa saya kena insomnia?!

Setidaknya bukan hanya karena 'perasaan hampir sempurna', tapi, lebih karena mengingat jasa Mama, pun Papa.




Wassalam,


2 Feb 2015

Setengah Delapan






Asaalamualaikum,
Aku selalu punya harapan, impian, dan cerita baru saat 'terbang'. Ada cita-cita yg terbangun antara aku dan banyak orang. Antara kedewasaan, cinta nyata, dan bagaimana rasa kebahagiaan diatas keputusanku sendiri.

Aku rindu 'terbang', nyatanya. Tak pernah aku didera serindu ini pada awan. Pada langit biru yang kadang aku ingin mengambilnya dan kutaruh di saku baju.
Entah hari ini, atau seterusnya, pada buni yang aku merasa sedikit tidak adil baginya. Aku harus punya lekuatan besar seperti aku merasa tenang saat melihat awan. 

Aku harap hanya jibaku sementara. Betapa Alloh sangat mengerti apa yang jadi isi hati. :)


Aku mencintaiMu, dan seterusnya.


Wassalam,
Renotxa.