16 Okt 2014

Menulis bersama

Koma pada makna.
Yang terhenti akan tersandung?! Jatuh terguling sampai berhenti pada satu titik?! Atau berhenti melompat kecil sambil berhati-hati.

Ada yang kelam di tiap aku dan kamu. Apa kau tahu legamnya bintang tanpa bumi?! Apa kau juga tahu hitamnya laut tanpa sinar mentari?! 

Kadang kau tersikut, kadang pula sedikit terinjak. Tapi tahukah?! Seekor ulat mampu menyamai indahnya rembulan. Bahwa ilLahmu dan ku adalah Penyayang tanpa lelah.

Mengapa kita tak menulis akhir cerita tiap kita pada kata bernama Jannah?!

Bisa antara kita saja. Atau dengan klise berbeda pada barat daya?! :)



Wassalam,
Renotxa.

9 Okt 2014

(Masih)

27 september 2014

Aku membayangkan bagaimana Nabi melakukan Haji. Dengan keadaan yg jauh berbeda dari saat ini. Pernah suatu hari, kami pergi ke tempat arofah yg insya Alloh akan didatangi jumat depan nanti. Matahari serasa berada di ujung kepala. Panasnya melebur pada dada. Badan ini berat melangkah. Tak khayal, beberapa cerita tentang banyaknya sabar terus terdengar. Haruslah jadi perisai walau tak sempurna.

Itu yg lalu...

Hari ini, langkah kaki masih tetap pada Masjidil Harom. Tempat dimana napak tilas Ibrahim as melekat dekat. Hari ini Alloh ajarkan lagi, di depan mata dengan ribuan orang berdiri dengan sujud satu ILLah. Sempat berpikir. Alloh pasti sangatlah 'sibuk' sekali. Mengurusi banyak orang yg rupa-rupa takdir, umur, rejeki, dan lain-lain. Itupun dalam puluhan tahun, mungkin. Dan Alloh pastilah Maha Hebat. Karena tidak hanya urusanmu, Urusanku pun pasti Ia mudahi. 

Saat ini, diatas Mesjid ini kembali menggelar sajadah bersama. Langit-langit Mekkah indah sekali, seindah langit yg sering terdapati saat melewati garis pantai, puncak bukit dan gunung, atau sekedar mengintip dari genteng cucian rumah.
Alloh mengajari lagi. Dia Maha Adil. Bahwa indahNya Dia bagi kesana kemari. Dia tidak pelit. Dan betapa kecilnya urusan kami. Membayangkan banyak doa dari tiap orang bisa ia ijabahi. Bagaimana tidak dengan doaku dan doamu?!


Wassalam,
Renotxa.