1 Okt 2014

Beberkah

26 september 2014

Gulungan malam. Giliran bulan dan bintang selimuti mekah. Malam ini, langit2 mekah bertebaran doa. Doaku, doanya, doa mereka. Hal yg paling mengagungkan. Menghidupkan malam dengan sujud, merendah sesama tanah.

Ka'bah masih gagah berbaju ihrom. Kali ini, mencoba menapaki raut suasana hijr Ismail. Berbanyak banyak manusia tumpah ruah. Mencoba berbaur mendapati lengkungan setengah. Berdesakan. Bergejolak antara melengkapi niat dan kecintaan serta meredam rasa menyakiti, mendzolimi. Aaah... Alloh. Berat nian.

Usaha langkah ini pelan-pelan ditelusuri. Melewati ratusan orang yg datang melingkari Ka'bah. Kami tengah akan masuk ke Hijr Ismail. Lalu....terjepit. Terjepit sampai dada menyesak, terhimpit sesama badan. Pengap. Kata-kata Alloh hanya ada dalam pikiran. Ya Alloh, kalaulah begini. Tiada yg dapat menolong kecuali pertolongan Alloh. Aku sebut lama-lama nama Muhammad dalam sholawat. Hanya itu yg ada dalam pikiranku. Semakin memejamkan mata. Semakin pasrah meminta pertolongan Alloh. "Biarlah... Kalaupun mati saat ini, semoga mati ini syahid", batinku. Lanjut-lanjut Alloh menolong kami. Tepat didalam Hijr Islamil, dibawah talang emas, ku peluk Ka'bah lekat-lekat. "Aku rindu padamu ya, Ka'bah". Tangisku pecah. Tak perduli siapa yg mendengarnya, tangisku berlama-lama mengingat Alloh, entah kata-kata apa yg harus diucapkan. Alloh membuat semua ini mungkin. Bahwa kami ada disini. Ada di rumahNya, diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengingatNya, mendoa leburan dosa, berharap ampunan Alloh.

Ada doa untukmu, untukku, untuk semua. Bahagia dan bangga aku menjadi umatNya, menjadi umat Muhammad. Masya Alloh... 

Dan tersimpan lagi semua di gurun yg ternamai Arofah.

27 Sep 2014

Lingkar

24 september 2014,

Assalamualaikum,

Pagi menjelang siang. Teriknya malu-malu namun hangatnya memeluk erat-erat seperti pelukmu. Dalam ajaran berihrom, aku berjalan, memandang tinggi bangunan, seperti sahabat lamaku. "Kita bertemu lagi, kawan," batinku.

Menyusuri langkah satu demi satu dengan satu harapan. Tapak2 kaki ini terasa ringan walau sebenarnya sudah tidak mampu. Sampailah pada 'kawan lamaku' yg lain. Ka'bah Ahad itu masih cantik. Rasa rinduku pecah. Kulihat sendiri bagaimana ia pun akan merayakan haji bersama kami (insya Alloh). Ka'bah ini pun berihrom.
Bangunan ini...... Bagaimana mungkin aku tak mencintainya, selalu saja terbayang-bayang mengelilingnya. Juga tersenyum setiap melihatnya. Setidaknya, aku melihat bangunan yg sama seperti Muhammad melihatnya.

Dan ArsyMu, yg tiap kali membayangkan saja sudah ingin sekali ku berada dibawahnya
Mengelilinginya dengan keringat peluh. Sungguh, keringat ini yg lebih aku bahagiai daripada keringat kerja kerasku dalam pekerjaan. Mengapa tidak aku menangis saat 'mendekati' tiap2 inci jarak ku dan Ka'bah?!

Aku menangis untukMu, aku menangis untukMu, dan seterusnya. Karena tanpaMu, aku tak mampu untuk berada pada langkah jejak banyak kekasihmu.

Ka'bah ini, sekali lagi, yg terindu untuk mengatakan langsung padaNya bahwa, "Alloh, terima kasih. Apalagi yg mampu menandingi kata-kata itu?!".

(aku membayangkanmu mengelilingi Ka'bah dengan air mata berderai, 'berbicara' pada Alloh bahwa betapa bersyukurnya engkau menjadi seorang Muslim), insya Alloh.


Wassalam,
Renotxa