15 Agt 2014

Mimik Putih

Assalamualaikum,


Sumber : Disini


Alasan mengapa saya sukaaaaaa sekali air putih yang terkadang rasanya enak seperti memakan sesuatu yang berbumbu. Karena air putih berwarna putih adalah alasan utama dari para nenek moyang kita yang menamai air  minum sebagai air putih yang saya juga bingung, ini transparan, ini transparan (diulang-ulang sampai 5 kali). Air itu menggoda bila direunikan dengan air yang lain dalam satu wadah. Kolam renang misalnya. Laut misalnya. In ways it has supposed to be that way tapi, iya... saya suka. Mereka berkumpul dan berwarna pada akhirnya dalam gradasi biru. Uuulalaa....

Alasan selanjutnya adalah, ia cair. Karena padat sudah dipakai tanah, beku dipakai es batu, uap juga berasap. Toh... air tetap cair intinya (ditinggal pemirsa ke Brunei). Yaa, menyadari pentingnya air yang punya sifat membersihkan. And i owe these thing to keep my healthy living. Kebiasaan air putih ini dampaknya besar luar biasa untuk kesehatan. Dan tubuh punya alasan cukup kuat untuk bersahabat dengan air putih. Ya tho?! Iyo ajaa...

Air putih juga cinta damai. Cek deh kemasannya, "simpan di tempat yg bersih dan sejuk, jauhkan dari sinar matahari langsung dan benda-benda yg berbau tajam". Itu menandakan, air putih itu cinta bersih dan cinta damai. Eksklusif sekali. Sehingga, apapun yang terjadi dalam kehidupan manusia tak lepas dari kebutuhan berair.

Intinya.... Air putih itu dijadikan hobi. Bukan sekali-kali.

ya.. ya...


Wassalam,




*semacam blog bajakan anak-anak begini.

14 Agt 2014

Minus

Assalamualaikum,


sumber : http://marscellthebest.blogspot.com/2012/08/dibalik-sebuah-kekurangan.html

Beruntunglah, beruntunglah, manusia yang punya kekurangan. Yang ia mampu menyadari kekurangan hingga mampu menghargai kekurangan orang lain tanpa berbelit mencari alasan ini itu. beruntunglah, orang-orang yang atas dasar itulah mau mengerti dan bersahabat dengan takdir hidupnya. Dan memperjuangkan secara maksimal dasar dirinya sebagai makhluk sosial, berenergi. Karena hidup ini sangat besar untuk dipecundangi, ditantangi. Tak mampu. Sungguh tak mampu. Tapi bukankah ego, nafsu, dan amarah musuh paling besar dari tiap-tiap kita?! 

Beruntunglah, beruntunglah, walaupun sudah mengenal orang-orang tersebut, dan masih belajar untuk 'santun' pada keadaan. Mencoba bersikap rendah hati karena dirasa-rasa, tiap-tiap kita punya dimensi limit yang berbeda. Yang tak punya tangan, yang tak mampu berpikir cepat, yang tak mampu melihat gradasi warna, yang tak mampu bernapas dengan sempurna, yang tiap kali berkaca tak ada lekuk wajah. Entahlah, atas dasar apa kita menamai sempurna karena Alloh saja tidak menuntut lahiriyah tampil menawan. Cukuplah hati yang besar dan indah. 


Ah... Dimana manusia-manusia dengan hati dan pola pikir yang bersahaja seperti dulu?!

I wish i can meet them up soon. 


Wassalam,